Pages

Tuesday, March 11, 2008

Surat Untuk Bidadari ...

Dear Bidadari,
Meski diarahkan padaku seribu anak panah
Dengan ratusan pedang siap menghujam tubuhku
Dan meski bermacam rintangan dan godaan di sepanjang perjalanan
Tak kan pernah kubiarkan Cinta ini meluruh
Sedikit pun ...!!!
Sampai ajal datang menjemputku ...

Karena melupakanmu ...
Tidaklah semudah membalik telapak tangan
Dan melupakanmu ...
Ibarat menyatukan langit dan bumi pada satu titik
Hingga hanya Tuhan yang berhak memisahkan
Lagipula batin ini tidak punya cukup kemampuan
Untuk membohongi hati nurani
Dan yang sungguh tidak bisa aku tutup-tutupi
Bahwa kamu selalu ada di hati ...

Maka, kurasa dirimu pun berhak tahu
Bahwa telah 'ku pancangkan tiang cita-citaku
Kemarin malam ketika dunia terlelap
Tentang tujuan hidupku setelah semua yang aku lalui
Yang cuma memberi dua pilihan :
HIDUP BERSAMAMU atau MATI SAMA SEKALI
Titik.


Tak perlu kau cari gerangan cinta
yang berhembus sejak kokok pertama pada pagi berkabut sendu
Menjejak langit, menerjang batas cakrawala jingga
Berlari tiada suara
Melayang tiada getar
Disini, pada sebentuk sukma, yang tinggal hanyalah hampa

Tak usah kau tanya akan kembalinya cinta
Bahkan bintang kejora penghias langit pun tak tahu pasti
Juga malaikat-malaikat berwajah ramah pada pintu nirwana
Dan burung kakaktua dalam sangkar bersepuh emas
Karena cinta tak bisa dimengerti
Dan tak akan pernah bisa dimengerti
Karena jika kautahu, tentu senyum itu telah menjadi milikmu ...