Pages

Wednesday, March 29, 2006


Diary Cinta Untuk Sephia

mencair sunyi di dadaku
mengalir dalam kapiler-kapiler kenangan
di setiap kelokan namamu membatu
dan setiap kali kudengar gemericik sunyi yang mengalir
dadaku mendesir

suatu kali kita sama-sama tenggelam
ketika sunyi menggenang di persimpangan
mengapungkan puing-puing kenangan
dari duka yang kita ungkapkan
setelah tak ada lagi yang dapat kau tuliskan
pada malam kau memesan bayang
tetapi purnama selalu kau lewatkan ...
Bulan Padam

Lingkaran bulan padam
Menggelayuti awan temaram
Membelah malam legam

Dingin, sunyi, sepi
Menelikung kulit menggigil
Di pucuk menara menjulang
Seolah tak menyisakan ruang
Untuk kita bertanya pada langit
Tentang sebilah keadilan
Bagi jiwa-jiwa nan sekarat

Esok, pada sebuah kehidupan
Tak akan lagi pernah sama
Sejak berbatasnya kesenduan
Atas kebahagiaan
Sebab telah kau tiupkan kehampaan
Yang menjejak parut
Jauh ke dalam batin

Maka bergegaslah,
Tinggalkan saja bulan padam itu
Duhai kekasih abadiku ...


Jauh... pijakmu dari pijakku
Jauh wujudmu dari sisiku
kuterawang setiap sisi hidupmu
untuk mencari diri yang pernah ada dalam sisi hidupmu

Ketika malam membelai rasa yang makin tak terkira
ketika gelap melingkup hati yang makin tertutup
Ketika dingin menusuk jiwa yang sedang mengiba

Angin bergerak hendak berontak
Hujan mencerca seakan ikut berkuasa
Halilintar berebut seolah mereka tak pernah takut

Runtuh..semua kekuatan dan keabadian
Hilang segala harapan dan kehidupan
Lenyap semua yang ada dalam angan
habis segala kesadaraan yang merekat erat dalam badan

Kutunggu detik bergerak kearah detik lainnya
kunanti pagi sampai waktu tak berhenti

Aku menanti......
Walau diri sudah tak berarti

Aku menunggu
saat waktu menjemput ajalku

Sia...siakah..aku menantimu....?