Pages

Sunday, June 30, 2002

PRASASTIMU ...

semerbak bunga-bunga tiada hilang
saat alas kaki masih basah
dengung bergumam mengiang
aku hanya tertunduk tanpa tulang

betapa prasasti yang menancap ditanah merah
masih tergambar nyata dalam setiap jengkal tanah terpijak
betapa alur alir air mata masih membekas kering

ingin rasanya menyatu dalam nafasmu
dalam ruang waktu yang tak tertentu
hanya doa tersembur tiap gerak sujudku
semoga ada yang abadi diantara semerbak kamboja

kau pernah lepaskan sendi-sendi tulangku
dan karenamu pula sendi-sendi ini kembali menyatu

damailah,...
beribu lembar tentangmu terukir dikalbu
menjadi bait-bait membatu
yang kupahat dengan mata pisau hatimu


K E K A S I H K U ...

kekasihku,...
masih ingatkah kabut yang menghentikan langkah kita ?
saat kau terpeleset dan hampir lepas genggaman tanganmu
dan gravitasiku menarikmu kembali tanpa ragu

kekasihku,...
kabut itu telah berlalu, hanya kabut putih yang membawa beku
yang membekukan bibirmu saat begitu dekat kita menyatu
tanpa kata, tanpa desah nafas kita, hanya mata mewakili semuanya,
semua yang pernah ada diantara kita ...
semua yang pernah tergambar didinding-dinding haluan kita

kekasihku,...
masih ingatkah saat kita sama-sama dihanyutkan deras sungai belakang rumahmu ?
saat itupun genggaman tanganmu hampir terlepas, hampir saja aku kehilanganmu,
tapi kembali sungai ini masih mengasihi kita,
bukan kita,.. tapi cinta kita

kekasihku,...
masih ingatkah tentang bulan ketujuh yang kau isi dengan malam bahagiamu ?
tentu kamu masih ingat, tapi aku sama sekali tak ingat malam itu
karena malam itu aku sedang menunggu kereta senja yang akan membawaku jauh darimu.
dan kau,... menikmati malam tanpaku
dan aku,... hanya sendiri menapaki jejak-jejak langkah kita
tanpamu,...

kekasihku,...
bukan,... bukan kekasihku lagi,...
tapi pemberi luka hati.

Friday, June 28, 2002

ARTI DIRIMU ....

Apa arti dirimu untukku ?
Pernahkah hatimu desahkan kalimah itu ?
Seperti angin membelai daun ?
Bisikan surgawi.
Dan langit pun menjadi biru.
Sebiru air matamu, mengalir.
Seperti sungai.
Sungai surgawi.
Sampai padang kering jiwa meretak.
Dan tiada kembali.

Artimu bagiku ?
Seperti bintang-bintang menemani putri malam.
Seperti tetesan embun bersepuhkan pelangi.
Seperti ombak di antara sanur - sanur ruhsana.
Seperti desik mawar kecup rebah violet.
Seperti kamu.
Bagiku.

Tak usah usik jiwamu dengan gulana.
Tiada berguna.
Hanya menulis di atas air.
Sia-sia.

Artimu bagiku adalah kamu semata.
Dan takkan berubah.

AKU INGIN ...


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



R I N D U #2

Si sejuknya depa rembulan paruh malam
Ku terhenyak dalam rindu dendam
Dipendarnya rembulan nan temaram
Ku tumpahkan segenap rasa yg terpendam
S’gala mimpi-mimpi pun menyisir kelam
Seakan dapat ku dengar langit bergumam
Senandungkan denyut-denyut bahasa alam

Purnama ke tiga di langit kelamku kembali hadir
Menyinari lubuk hati yg biru dan membeku
Diri pun tenggelam dalam gempita pelita
Seakan s’gala gundah gulana pun tersingkir
Jelaga malam pun menelan semua kerinduan

Sepanjang malam rembulan menyapaku ramah
Ia tersenyum
Dan berusaha membuatku tersenyum
Ia tahu hatiku pedih
Dan ia tahu aku begitu merindukanmu

Sepanjang malam rembulan membelaiku
Mengajakku masuk ke dalam pelukannya
Membuatku hangat
Dan melindungiku dari bekunya angin dingin
Ia tahu aku membutuhkannya
Ia tahu aku merindukannya

Sepanjang malam rembulan menemaniku
Membuatku damai di setiap keluh desahnya
Ia bertanya tentangmu
Aku tahu ia juga merindukanmu ...


R I N D U

Jika rinduku seperti setetes pewarna
Maka aku akan lukis mentari di malam hari
Biarkan cahayanya mengikis suram yang tercipta
Sampai hatiku penuh dengan nur dan dian
Tidak segelap dulu lagi

Aku akan menciptakan rembulan di siang hari
Agar tatapan lembutnya membelai setiap sudut hati
Setiap relung sukma yang penuh dengan perih
Setiap lekuk sanubari yang haus akan kasih
Bukan sara, bukan nelangsa, bukan gulana
Sebuah padang rumput akan tergambar
Di dataran rasa yang hijau luas terhampar
Dulunya begitu kering kerontang
Tak tersentuh oleh air romansa
Tak terhembus oleh sepoi ruhsana
Terlalu sering dijamah dan disiksa kemarau lara
Terlalu lama terhimpit oleh kehampaan

Aku begitu rindu, dan semakin rindu
Sampai akhirnya aku bertanya selalu
Sampai kapan rindu itu berlalu ?
Jika rinduku bagaikan selembar benang
Saat ini aku sudah merajut selimut
Untuk menghangatkan relung tubuhnya
Menjaga dari gigitan sunyi malam
Bekukan sisa rona di wajah hatinya
Dan memecahkannya seperti kristal kelam

Jika rinduku bagai satu undakan tangga
Saat ini tanggaku sudah mencapai angkasa
Bertamu ke tempat putri malam mempesona
Di mana aku bisa memetik satu-dua kejora
Yang begitu indah bagai matanya bercahaya
‘kan kusimpan untuk menerangi hari berikutnya
Di mana semua kembali seperti semula
Dan tak ada yang bernama perpisahan
Tak ada… hanya ada rindu yang meronta
Terus berpendar hingga akhir cobaan



N E L A N G S A

Jika kutusuk jantungku
Dengan serpihan tajam nelangsa
Apakah aku akan mati ?
Apakah aku berlayar sendiri
Di padang seram nan semu ?

Dan kalaupun aku pergi
Apakah ada yang menantiku kembali ?
Siapa gerangan dinda penawar luka ?
Siapa yang dapat memberiku asa
Untuk terus melangkah maju
Tanggalkan semua beban yang memberati ?

Kurasa aku sekarang bermimpi
Tapi tak tahu bagaimana cara aku bangun nanti.


Di antara menara-menara keputusasaan
Aku merengkuh sisa-sisa perih nelangsa
Citaku, sayang, kemana citaku pergi ?
Melalang buana dengan keping-keping sayapnya ?
Sementara aku tertinggal dalam pusaran
Hanya mampu menggapai tiada sampai
Apa daya, semuanya berlalu begitu saja

Dinda…
Kamu begitu indah. Begitu sempurna
Hingga nafasku tertahan di dada
Begitu harum tubuhmu melingkari mimpiku
Menciptakan hamparan bintang di langitku
Hanya dengan sedikit kerling sudut matamu berlianmu

Kubah sukma yang menderita retak rejan
Menghantam sedikit diri terlena buaian
Serpihannya menutupi palung kalbu merah
Sampai rembulan duka tiada menjamah
Kelam pun tercipta.
Sunyi pun membisikkan kata-kata suci.
Kukira, aku hanya berangan saja.
Setinggi semampai menyentuh nirwana.
Dan tiada kembali lagi.
Hingga saatnya tiba ...


Sebuah Kenangan Lalu ...

Jangan datang untuk mencari bayangku
lihatlah wajahmu, ada aku disana
tersenyum dalam air mata
kebeningannya mengusik iblis di hatiku

Jangan tanyakan apa aku masih cinta
rasakan nafasmu, cintaku ada disetiap helaannya
mengaliri darah dipersendianmu,
membuatmu hidup dalam kehidupan.

Jangan perdebatkan kerelaanku
sentuhlah hatiku,
ada malaikat bertahta disana
walau ia luka dan berdarah

Pertanyakanlah dirimu,
apakah kamu akan selamanya hidup
setelah aku kau tinggalkan?

Jangan berikan hatimu.
Ini tidak cukup untuk menambal luka
Ambillah untukmu, agar kamu dapat terus hidup
walaupun sekarat.

Jangan ceritakan kekecewaan hatimu
Mereka yang melukai kita
dan memaksa saling meninggalkan
Aku mengenalmu dengan hatiku.

Kekasihku, simpan pertanyaanmu
Kamu mengenalku dengan hatimu
Kamu kutinggalkan karena cinta
Terima kasih karena telah menyentuh kehidupanku
membawa warna yang indah dan kelabu
kusyukuri semuanya walau begitu pahit
Nanti, aku akan bangun dari kematian ini,
dan hidup dalam kehidupan
Aku harus terus hidup.
Agar dapat menguatkanmu
yang hidup dalam kematian


PAUTAN KASIH

Jika pautan kasih di ranting rapuh
imbaulah mimpi di perdu nan lusuh
meskikah berkait dengan talian keliru
antara tadahan asing & depaan jujur
segalanya kan terjawab dalam kata
lalu putik cinta layu di tangkai madu

Jika pautan hidup di ranting rapuh
gamitlah cita di rumpun nan redup
meskikah bergelut dengan hampa
antara luhuran simpati & desahan misteri
segalanya kan terjawab dalam makna
lalu kelopak cinta gugur di pohon resah

Jika pautan iman di ranting rapuh
sapalah doa di taman syahdu
meskikah bertaut dengan juraian keliru
antara kekangan duniawi dan pagaran bukti
segalanya akan tergambar didalam jiwa
lalu cinta gugur di dasar syukur

Jikalah pautan jiwa di ranting rapuh
Lipurlah lara di peristirahatan terakhirku
Oleh karenanya suntinglah sepiku
Basuhlah pedih diufuk jiwa membiru
Hingga kesudahan sebuah penantian
Teriring sapuan debu dalam kehampaan.


DAUN-DAUN

Daun-daun cinta …
nan berselerakkan di kamar hati
memagari kelopak kasih
bertangkai janji nan penuh duri
melayangnya nilai setiamu, kekasih …
kejutkan aku dari mimpi ngeri ini.

Daun-daun waktu
melambai di jendela harapan
meneduhkan impian di redupnya khayalan
berputar dalam igauan rawan dan kenyataan insan
diri amat pasrah dan akur
akan kunjungan nan tiada berujung.

Daun-daun usia …
semakin kering dan menguning
kian gugur ke dasar hakiki
melebur bersama ibu pertiwi
Dan sucinya abadi diri.

Saturday, June 22, 2002

Rainbow that ends with a jar of gold
Might be a fairy tale told by an old maiden
Faith of something unpredictable
What to see or what to be ...
Search the path that leads to glory
Even so it's yet unpredictable
Only see the many face in the mirror
The face of when I sad, cry, angry
Or even yet the face I hide behind
It is me, it is what I am ...
A person trying to make a place of his own
In the universe I've known as ... Gaia.

C.I.N.T.A.

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi
kesusahan untuk menguji kita
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap
harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu,
Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan,
kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat,
kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita
cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan,
ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai,
ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat,
Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah,
karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal :
iman, keberanian, harapan serta penantian
menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.
Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita
menunggu, karena alasan yang sangat penting.