Pages

Tuesday, January 22, 2008


'Ku tutup tabir tirai sutra
tak ingin bias mentari silaukan matamu
tuk lihat ketulusan hatiku
kuingin kau melihat
pancaran kasih putih dalam tiap kepakan sayap kecilku

'Ku tutup daun jendela kaca
tak ingin gemuruh petir pekakkan telingamu
'tuk dengar bisikkan hatiku
ku ingin kau mendengar
tiap detak jantung, tiap getar jiwa
yang slalu senandungkan lembut namamu
bisikkan nada-nada cinta

Kini ku ingin kau tuk menutup panca inderamu
dan tataplah diriku
hanya dengan hatimu
dan katakan padaku
apakah kau melihatku ...
seseorang yang mencintaimu ...

Lembutnya sinar purnama
terpa hati yang merindukan
rindukan hadirnya syukuri adanya
'ku bertanya kepada bintang
tersenyumkah dia dan biarlah bunga-bunga mekar semerbak
tertawakah dia dan biarlah sang bayu bawa tawa itu ketelingaku
menangiskah dia dan biarkan burung-burung bernyanyi menghiburnya
kiranya Dia slalu terangi langkahnya
berikan sgala gunda gulananya padaku
dan kan kupersembahkan suka cita tuk senyumnya
rindukan hadirnya kagumi indahnya
detak waktu trus berputar
tanpa hadirkan dia disisi
kankah dia rasa yang serupa
sang bayu bisikkan lembut didaun telingaku
tak ingin 'ku petik mawar yang tumbuh
bila itu akan tewaskannya
biarlah tiap helai mahkotanya gugur
dan kan 'ku rangkai kembali
helai demi helai kelopak dan mahkota itu
tuk kembali menjadi yang terindah ...

Saat malam meniti saraf-saraf terjaga dengan setengah mata terbuka karena insomnia.
Harus apa lagi, cinta ?
Apakah harus ku kulum neraka hanya untuk menemukan rindu yang berjelaga ?
Sedang separuh nyawa ku menjelajah semesta tak bernama yang mencuri sebagian detik dengan tawa.

Ketika matahari menelan malam sambil membisikkan janji pada pagi yang keruh,
ke mana lagi 'ku kan berlabuh?
Apakah harus ku telan seisi samudera 'tuk membiarkan perahu kecil ini membuang sauh ?
sedangkan berjuta amuk jiwa menjadi belati yang menyayat sendi-sendi tubuh

Setelah kau potong jarak lewat langkah seribu tahun
Kirimkanlah pertanda pada gerimis yang memenuhi ujung daun ...
NAFAS CINTA

Apakah aku akan hidup
untuk seratus tahun lamanya
bernafas demi mencintaimu
mengumpuli asa demi asa
agar dapat bersamamu?

Apakah aku akan hidup
untuk seribu tahun lamanya
tenggelam bersama pesonamu
melesat mengungguli waktu
agar terus dapat bersamamu?

Apakah aku.....akan terus hidup
selamanya hidup,
hingga berjuta tahun cahaya
memupuki setiap mimpi dan impian
agar terus dapat bersamamu?

Cinta,
Aku akan hidup lebih tua dari dunia.
melampaui setiap kehidupan baru,
kematian baru,
kelahiran baru,
untuk selalu dapat bersamamu.


jemari jemari tangan mulai menari
mengetikkan sebuah rasa dari hati
bukanlah cemburu bukanlah iri
mungkin cintaku tak seperti cahaya bintang
aku bukanlah pangeran dengan kuda putih
aku bukanlah mimpi yang berkelana di gelap malam
tapi aku pastikan
hanyalah waktu yang mampu
hanyalah langit yang dapat
melakukan semua kepada mu dan kepadaku

seindah apapun tarian mereka
seelok apapun nyanyian dan wajah mereka
mungkin aku terpanah
tapi aku tlah terjatuh sebelum terpanah
bangunkan jiwa ini wahai pujangga cinta
selamatkanlah aku dari legenda cinta
yang terancam punah


aku hanya bisa merindumu
tanpa bisa memberi nama
pada sebuah rasa yang sekali aku mencecapnya
lidahku kelu dan menyerah untuk berkata
sesuatu yang lama tapi tak pernah usang
sesuatu yang mengalahkan aku setiap aku melawannya
dan sesuatu yang melebihi harta yang mampu untuk membelinya

aku hanya bisa memandangmu
menyentuh bayang bayangmu
membiarkan aku tenggelam dalam setiap kepak sayapmu
untuk ku pada mu sesuatu telah menerbangkan aku
sesuatu yang membekukan khayalanku
sesuatu yang setia menemani sang waktu
dan sesuatu yang telah ada sejak sejarah
namun tak pernah usang

cinta ...


Apa yang akan aku lakukan
kala malam pekat menghampiri
saat hujan badai menghadang
Saat takut menghantui diri
Kala wadah jiwa meragu
.........
Apa yang akan 'ku lakukan
waktu gersang tak jua selesai
ketika dewi malam enggan bersinar
ketika daun hijau mulai berguguran
waktu sukma tak berjati diri
.........
Apa yang akan aku lakukan
kala asa tak berpengharapan
saat nestapa tak terperikan
waktu angan tak bertujuan
ketika cinta tak tertahankan
.........
Yang kutahu dan ingin kulakukan adalah
hadir dan berada dalam pelukanmu
.........
Apa yang aku lakukan
Manakala kau ternyata
tak pernah hadir dan ada dalam hidupku

Aku juga nyalakan sebatang lilin di samping bunga
Agar meja kita menjadi terang akan cahaya
Terlihat jelaslah air mata beningmu di seberang sana
Dan kuusap perlahan, agar tak lagi kumelihat duka

Kubuka lipatan saputangan biru muda itu
Yang pernah kau berikan padaku suatu waktu
Karena aku tak ingin kau basah oleh hujan
Yang menjadikan malam semakin temaram

akhirnya,
benar hanya angin, sampaikan ini semua
kepadanya ...

ku akan mengatakan kepada bunga-bunga disepanjang jalan
untuk menebarkan harumnya ketika kamu lewat
berbisik pada rumpun hijau di padang bambu,
berdentinglah, rangkaikan lagu cinta untukmu

Aku akan menghempaskan semua debu disepanjang jalan,
agar kereta itu lewat tak berhalang
dan 'kan ku siapkan malamnan temaram,
laluilah dengan sempurna

Luka ...

janganlah berdarah lagi.
Berbahagialah untuknya
Sebab aku telah melepaskan cinta
biarkan dia bersemi ditempat yang seharusnya
mungkin dia akan lebih indah
tanpa aku disampingnya ...


Kurasakan getaran itu
Mengalun indah disudut hati
Mengisi kekosongan hariku
Akankah dapat kurasakan selamanya
Akankah sayang itu kan jadi milikku
Ku harap dan ku pastikan selalu
Sayang itu milikku.
Cinta itu milikku.

Kudambakan dirimu dalam impiku
Hibur laraku hapus dukaku
Kau redam amarah dengan sejukmu
Kau isi malamku dengan ceriamu
Hapuskan kesepian yang selalu merasuk diri
Hangatkan kebekuan ini dengan sayangmu
Hadirlah selalu untukku kasih
Temani diriku dikesunyian ini

Sayangmu ...
Dapat kurasa mengalir indah disudut kasih
Membawa kesejukkan pada insan ini
Kuingin selalu mengukir kisah hidupku
Bersama dengan hari yang kian terpuruk jauh
Dengan guliran waktu yang takkan henti
Dapat kurasakan bahwa
Aku Sayang Kamu ...

Diantara ketidak pastian, aku bergumam
menanayakan sesuatu yang telah hadir lewat impian semusim
Membiarkan nuansa berlalu tanpa setitik rasa
atau,
memeluk untaian kasih yang terlupa
Andai waktuNya tidak berputar mengikuti
betapa ingin melewatkan sesaat bersama
memahami seberapa besar arti cinta putih
tapi,
Diantara ketidak pastian, aku berdiri
memandangi satu per satu hasil cinta abadi
sambil menunggu cinta datang menghampiri dan menyapa

Ingin ku genggam hembusan yang terlewati
sambil merasakan ada tiadanya cinta disana
tak mampu memahami adakah disana

Berdirilah, sambil menunggu menyusuri jurang-jurang ketidak pastian.
sampai kau temukan arti kasih putih didalamku.


Tawamu bukanlah bahagia,
tangismu pun belum tentu duka,
seperti pakaian yang kau kenakan,
mereka akan terlepas satu persatu,
hingga yang sejati tertinggal,
itulah dirimu yang telanjang,
tanpa topeng tangis dan tawa,
yang ada hanya kepolosan bayi dalam fitrahnya.

Seperti juga yang kau katakan Cinta,
Putih bersih laksana sutra dewata,
Cinta Putih itu,
bukankah sudah ternoda jua?
karena noda air matamu,
tak berbekas di atasnya
dan Cinta putihmu,
tetap seperti tak ternoda,
walaupun seluruh air matamu,
telah kering diperas duka.

Dan luka yang kau tunggui itu,
bukanlah soal waktu yang berlalu ...


CINTA ADALAH ...

Cinta adalah air yang mengalir
Diserap oleh tanah
Lalu menembus ke dalam akar
Memberi kehidupan padanya
Melalui batang dan rantingnya
Air menumbuhkan daun
Memberi warna pada bunganya
Keindahan bunga tiada pernah hilang
Bahkan hingga membentuk buahnya

Cinta adalah nafas
Disetiap tarikannya menciptakan kehidupan
Memberi tenaga bagi segala yang dialirinya
Membuat mata melihat dunia
Membiarkan harapan bertumbuh pada sayapnya
Dan dia menyentuh rasa yang tersembunyi
Di balik angan siapa saja

Cinta adalah kau dan aku
Karena telah kutitipkan cinta dalam genggamanmu
Airku mengalir dalam setiap denyut nadimu
Dan separuh nafasmu ada padaku.


SEDERHANA ...

Aku mencintaimu dengan sederhana
Seperti sungai pada hujan
Seperti bunga pada kupu-kupu
Seperti laut pada daratan

Aku mencintaimu dengan sederhana
Seperti Srikandi pada Arjuna
Seperti Shinta pada Rama

Aku mencintaimu dengan sederhana
Bukan dengan bujuk rayu
Bukan dengan penyaluran hasrat
Bukan dengan pelampiasan nafsu
Walau aku tak menampik semua itu

Aku mencintaimu dengan sederhana
Dengan sentuhan
Dengan belaian
Dengan kecupan
Bukan dengan bercumbuan
Bukan dengan ciuman penuh gairah
Namun dengan kasih
Tulus dan suci
indah
Lebih indah dari yang pernah kau bayangkan

Aku mencintaimu dengan sederhana
Tidak meletup laksana api
Namun engalir seperti air
Tenang
Dalam
Menghanyutkan

Aku mencintaimu dengan sederhana
Walau harus kuterjang badai
Kuhadang gelombang
Hingga tiba di tepian tak bertuan

Aku mencintaimu dengan sederhana
Entah kau sadari atau tidak.


RINDU ...

Mentari menarik diri di antara semburat peraduan
Ulurkan harapan menyibak kerinduan
Hadirnya sesosok jiwa yang hilang
Aku tersadar seakan bangun dari mimpi
Menyesali salahnya perlakuanku padamu
Merebak dosa yang pernah kubuat
Andai saja kau masih ada
Disisiku saat ini ...

Indahnya mimpi yang pernah kita bangun bersama
Rindu yang selalu ingin kau bagi
"Aku kangen kamu ... "
Aku masih ingat kata-kata itu
Namaku yang selalu kau sebut
Indah terukir di sudut bibirmu
Entah kapan kudengar lagi

Relung gelap di dasar hatiku
Akankah kembali kau isi?
Memang bukankah selamanya
Akankah Asa itu selalu ada?

Hingga kini, aku menunggu dan berharap
Resapan rindu yang pernah kau rasakan
Akan membawamu kembali
Hantarkan jiwa yang selama ini hilang
Aku telah menyayangimu
Percayalah, aku akan selalu begitu ...


Cinta Tiada Bertepi ...

Sulit bagiku untuk mengucapkan cinta
Tapi aku mencintaimu seperti embun
Yang tergelincir di lereng hati
Menetesi rimbun cemara kehidupan*

Aku mencintaimu ...
Dengan kesepakatan antara iblis dan malaikat
Yang berseteru bersenjatakan dendam dan air mata
Mempertentangkan hidup dan matiku*

Aku mencintaimu ...
Layaknya serakan sampah jalanan kota
Yang merindukan api pembakaran
Tuk diperabukan lalu memberi makan benih baru*

Aku mencintaimu ...
Dengan kecemasan Gurun Sinai
Mata air yang parau yang menyanyikan lagu kehidupan
Dalam pengembaraan nan jauh*

Aku mencintaimu ...
Layaknya surga merindu orang shaleh
Kala kematian menuntunnya dengan mesra
Hidup pun tiada lagi berarti*

Aku mencintaimu ...
Dengan separuh senja yang telah berlalu
Mengisinya dengan janji matahari
"Harap 'ku temui engkau esok pagi"