Pages

Thursday, June 15, 2006


Le Prairie Dan Pedang Perak

Aku menganggap Le Prairie sebagai makammu
Walaupun akhirnya Angelina Shivlatava membawamu ke Bulan
Membawa jasad bidadarimu, kukira
Namun tidak jiwamu.

Pedang perak yang kutancapkan sebagai nisanmu
Dahulu berlumurkan darahmu membiru
Menusuk dadamu, menghancurkan jantungmu
Menghentikan kehidupanmu
Sebagaimana kamu hentikan kehidupanku

Saling membunuh dan menyakiti
Bukankah itu hal terindah di muka bumi ?
Perih adalah buah bulir-bulir Cinta
Sampai akhirnya aku yang memetiknya

Karena kecantikanmu, kemolekan gerak tubuhmu,
Keindahan lekuk jerit suaramu,
Kerling benci matamu,
Desau amarahmu,
Keabadianmu ...

Tiada dapat menahan segala gumaman gulana
Yang dikandung Sang Pemenggal Iblis Gainsborough
Terlalu sakit dan berat untuk makhluk lemah sepertimu
Maka matilah kamu, Pemilik Purnama

Sekarang,
Aku cabut kembali Pedang Legenda Gardner
Nisanmu.

Mencari Bunga Putih Awal Kehidupan
Lebih penting dari sekedar menikmati kenangan
Walaupun keduanya sama-sama mustahil.
Sukar diraih.
Yang satu, tak mungkin teraih kembali.



Le Prairie Dan Bunga Manja

Aku luangkan setangkup detak waktu
Untuk menyepi dengan diriku
Bukan di Room Of Sorrow
Namun di samping pohon eik hijau
Di tengah Le Prairie dimana dia tumbuh

Menghidup sepoi angin tersapu
Hirup! Agar paru – paruku penuh
Hidup! Mengaliri setiap venaku
Agar hati beku ku mengeluh
Memerah dia dahulu
Berdenting di kemudian waktu

'Ku letakkan Mawar Merah Jambu
Pecahan dirimu lampau
“Bunga ini manja sekali ...” desaumu santun
“Iya. Manja sepertimu …”
Dan kamu pun tersipu

Bunga ini tumbuh dengan indah, bidadari
Aku memupukinya dengan abu surat-surat cintamu
Yang kubungkus dengan helai saputangan satin
Tempat air matamu tercurah
Setiap kali Cinta menyiksa hatimu yang rapuh

Seperti desahmu di kupingku,
Setiap kamu lelah bermain di antara Bunga Manja,
“Bunga akan bertambah indah bila dipupuk dengan kenangan."

Sekarang aku tersenyum.
Kenangan menyakitkan, bidadari.
Entah mengapa aku membiarkannya tumbuh.

TERATAI BERLABUH DI SURGA


Sampai kapankah Adinda merana
Siang menghilang, malam menelan
darah-darah yang berguguran di atas Bumi

Usai Fajar mengerang malam ... ah,
betapa syahdu ku dekap nyanyian itu
Berjatuhan di tengah derasnya pilu rasa derita fana

Kanda bersandar pada bahu Sang Mawar :
apakah surga sunyi tidak mendekapmu, Adinda
dalam keheningan ruh, keramaian surgawi ?
Kanda merasa jatuh dalam sebuah sungai tak beriak
teringat semua suratan langit yang terbentang di mata laut ...

Kanda tersimpuh di kaki Sang Melati :
Ampunkanlah khilaf rajani, Dinda
Inilah rasa sesat itu ... inilah rasa takdir yang menghunjam Dinda
Sesak
Sang durjana kegelapan datang
Dinda, tak adakah rasa sesal bertahta ?

Kanda berlari mengejar Angin membawa Sang Anyelir :
Dengarlah lawatan tangan Kanda
Guratan sengsara akan terpancar jelas disana
Tampikkanlah segala yang fana, Dinda mengerang
Sekujur tubuh bermandikan lumuran kenaifan hati Dinda
Tak 'kan Dinda usai berlabuh ...?

Kanda mencari Sang Teratai :
Dimanakah hati Kanda berada, Teratai malang ?
Selendangmu terkulai di bawah bayang pohon aras
Warna merah, memutih, memudar
Tanah basah terinjak oleh debu waktu, membawa
Kanda nelangsa dalam tujuh samudra

Dinda Teratai... tak kan terulang hati Kanda
untuk selalu mengenang jiwa Dinda...
Mawar telah usai
Melati telah luruh
Anyelir telah berkabung

Hanya Dinda'lah pembawa surgawi bagi Kanda ...

Tidakkah Teratai luruh di tangan Kanda ?


Sunday, June 11, 2006

Thanks to Pudya Arya
Publikasi Bagian II


TENTANG CINTA



Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding. Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa.

Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan. Cinta tidak buta, tapi menerima Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.

Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.

Cinta berani melakukan hal menyakitkan. Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata "tidak" saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu. Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan.



Thanks to Pudya Arya
Publikasi Bagian Pertama


TENTANG CINTA


Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi. Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.

Cinta itu konstruktif Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.

Cinta tidak melenyapkan semua masalah. Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang-berarti tidak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengesampingkan problem.

Cinta cenderung konstan ... Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik.