Pages

Sunday, September 17, 2006

Mengejar Bayangan

Ternyata,
Dalam empat minggu yang indah ini,
Aku kira aku telah mati dan terbang ke surga.
Dikelilingi kasihmu yang tiada berakhir.
Disuapi oleh cintamu yang manis tiada tara.
Dilumuri rindumu yang melekati setiap pori-poriku.

Aku salah.
Aku terlalu banyak berharap.
Aku hina.

Aku hanya mengejar bayangmu.

Ternyata,
Kamu tetap memilih dia.
Lelaki yang (katamu) kamu tidak bahagia bersamanya
Lelaki yang (katamu) kerap menyakitimu
Lelaki yang (katamu) tidak mengerti apa maumu.
Bagiku, Rindu adalah sekuntum mawar putih, sahabatku.
Cantik seperti sepuhan surga.
Suci dan syahdu layaknya air mata sang rembulan.
Indah.
Namun belukar duri di tubuhnya.

Ketika aku memetiknya.
Duri-duri itu merobek pembuluhku.
Memuntahkan tetesan darah.
Hingga kelopaknya menjadi merah muda.
Mencicipi darahku.

Mengapa harus darah yang menetes?
Bukan gulanaku?
tidak ada rindu yang indah
ia indah dengan siksa didalamnya
ia sakiti jiwa dan raga kita
dengan pesona dan keindahannya

hingga kita mengakui keberadaannya
dengan rasa sakit yang tak berhingga
lalu muncullah persaan cinta
suatu tranformasi bentuk yang sempurna

mengalahkan rasa sakit yang dirasa
hingga jiwa berkata sakiti aku selamanya
agar aku dapat merasakan cinta
dan tak mudah merelakannya
Bagaimana aku dapat merelakan dia pergi?
Dia genggam separuh jantungku di tangannya.
Sementara dadaku?
Hanya ada lubang berlumur darah di sana.
Seharusnya di sanalah cinta berdetak.

Kamu melawan rasa cintamu
Kamu melawan rindumu padanya,
Mungkin dalam hati kamu berkata
"Berapa malam lagi harus kulewati dalam bayang-bayangnya?"
Mau melupakan namun hati berkata
Aku tidak mau melupakannya, dia pujaanku
Pikiran dan hati sendiri mulai berkelahi
Pilihan ada dalam hati,
Pikiran menjalankan apa yang ada dalam hati
Jangan kau lawan rasa rindu can cintamu itu
Karena rasa pedih dan terluka sudah menunggu...
Menunggu untuk kembali menyiksamu,
Dalam derita cinta ...
Engkau tersiksa karena rindumu
Saat-saat engkau tidak dapat bersamanya
Saat-saat engkau tidak menemaninya
Saat engkau berada jauh darinya
Kamu merasakan perih karena kerinduanmu
Karena kamu tidak bisa bersamanya,
Namun kalau ia datang kembali padamu
Apa kau ingin melawan rasa rindumu itu?
Apa kamu ingin membohongi dirimu dan cintamu sendiri?
Percaya akan segala yang sedang berjalan saat ini
Aku terus berjalan maju, tidak ingin melihat kebelakang
Namun kutemukan kekosongan dalam perjalanan ini
Bagai berperang tanpa membawa senjata
Aku berjalan di tengah perang yang sedang berlangsung
Tanpa pedang aku disana
Tanpa perisai aku bertahan dari kematian
Haruskah kucuri apa yang menjadi milik orang lain?
Haruskah kuambil pedang di lantai itu dan kubunuh orang-orang?
Aku ingin hidup, masih ingin hidup
Ingin sekali lagi menemuimu, walau jauh...

Perang dalam diriku belum berakhir
Kusadari aku harus bertahan, tapi apa aku harus menyakiti?
Menyakiti mereka yang tidak bersalah?
Menghancurkan mereka yang juga sama sepertiku?
Mereka yang juga tidak ingin mati,
Mereka yang memiliki cinta..
Apa pantas diri ini mancabik jiwa lain?
Yang mungkin lebih pantas hidup dari jiwa ini

Ketika kunyanyikan laguku,
pada rumpun bambu yang kujadikan nada
ku sisipkan namamu pada baitnya

Ketika kunikmati curahan hujan
pada malam bernaungankan bintang ,
ku patrikan kemilaumu pada gemerlapnya

Ketika ku bentangkan pandangan,
pada kekaguman langit biru,
ku rapalkan namamu, ku jadikan sebait do'a

Jadi katakanlah padaku,
kala dedaunan gugur menyentuh bumi,
menceritakan kisah semu tentang segala cinta
tolehlah sekelilingmu,
tak kan kau temukan cinta seperti cintaku.


jika kau sisakan satu ruang di hatimu
dengan apa kan ku isi
agar kita bisa bertemu dan
membiarkan jiwa kita beranjangsana
melebur rindu di dalamnya

aku hanya memiliki hati dan jiwa
yang merdeka untuk mencinta
namun kaki-kakiku terikat terbebat
terbawa alur waktu yang menjauhi masamu

aku tak bisa membiarkan jiwamu
dan sebagian jiwaku yang rindu
mati kedinginan membeku
karena kaulah darah yang menghangatkanku
dan akulah bara pencair sukmamu

lalu jika kau sisakan ruang untukku
dan aku tak mampu mengisinya
bahkan dengan rindu-rinduku,
mengapa kita harus berdiri disini
bertukar tatapan cinta?


Kasih...
telah banyak duka
yang kadang membuat hatimu terluka
sejak ikrar terucap di hening malam bersemilir angin laut
namun kau hadapi dengan segenap kasih
haru membimbingku padamu
kepada puncak piramid segala tujuan hidupku
hingga ingin kumenarik rembulan
tuk disematkan pada jiwa suci
sebagai tanda jasa tulus kasihmu..

Kian kusadari arti hadirmu
bahwa hanya dirimu belahan jiwa
membuka mata hati yang lama mati
menguak cakrawala cinta sejati
yang dahulu kunanti di sepanjang malam-malam sunyi
sampai detik ini ... sayangku senantiasa tercurah untukmu, kasih


Aku pernah mati muda.
Ketika itu, rembulan remuk diatas kepalaku.
Serpihannya menusuk inderaku.
Kemudian aku mati rasa. Hatiku pun membeku.

Aku pernah terbakar oleh benciku.
Ketika itu matahari menjelma berkembar-kembar
dan menghanguskanku.
Sehingga apapun yang mendekatiku akan hangus.
Aku adalah neraka.

Aku pernah sungguh-sungguh hidup.
Ketika itu, seseorang yang menamakan dirinya kasih datang kepadaku.
Setelah itu segalanya benderang.
Sebelum kemelut sedarahmu datang kepadaku,
Aku bahagia.

Lalu segalanya berubah.
Aku tenggelam dalam lautan duka,
Ketika aku sadar, aku sendirian.
Dan saat ini lukaku berkarat,
Menusuk hatiku kapan saja.


Jika kamu mencintai seseorang,
cintailah dengan otakmu.
Jangan biarkan perasaan merajai logikamu,
karena perasaan sering kali salah.

Jika kamu mencintai seseorang,
dan kamu yakini dia adalah yang terbaik untukmu,
perjuangkanlah cintamu.
Jangan biarkan mereka diluar sana memisahkanmu,
sebab mereka tidak mengerti keinginanmu.

Jika kamu menganggap dia adalah cita-citamu,
capailah dia.
Jangan pernah menyerah sebelum kau dapatkan.

Dan jika kamu memiliki kesempatan
untuk membuatnya menjadi milikmu,
bertarunglah demi masa depanmu.

Sebab kesempatan belum tentu datang dua kali
dan tidak semua orang sabar menunggu.


Ketika kamu menghancurkan aku,
kamu melukai hatiku.
Aku bangkit dan terus bangkit,
walau bertubi-tubi kamu menghancurkan aku.

Ketika kamu meninggalkan aku,
kamu mati dalam hidupku.
Aku menamakanmu masa lalu,
dan kenanganmu hanyalah sebuah kenangan.

Ketika kamu membuat air mataku berlinang,
kamu menenggelamkan aku dalam kesedihan yang panjang.
Namun nuraniku tetaplah nurani,
dan aku akan selalu bahkan semakin bersinar.

Sebab ketika kamu menghancurkan aku,
aku memaafkanmu.
Dan ku anggap ini adalah
pembalasan dendam yang paling sempurna.


Aku ingin menyimpan harummu,
pada semilir angin,
agar semerbakmu mengikuti aku
kemanapun aku pergi.

Aku ingin menyimpan suaramu,
pada genderang telingaku,
agar pada setiap napasku,
aku dapat mendengar merdumu.

Aku ingin selalu ada bersamamu,
berkorban untukmu,
jiwaku milikmu,
hidup matiku demimu.

Aku mencintaimu.
Sungguh-sungguh mencintaimu.
Terima kasih Tuhan,
kepadaku Kau berikan cinta.



Kekasihku ...

Seorang wanita yang mampu redakan emosiku dengan tatapnya
Seorang wanita yang mampu luluhkan hatiku
yang tlah membeku dengan senyumnya
Seorang wanita yang mampu hilangkan bimbangku dengan
kata-kata bijaknya
Seorang wanita yang mampu mendengarkan keluhku
dan banyolan jayusku dengan telinganya
Seorang wanita yang mampu membuatku merasa nyaman
dengan sentuhannya
Seorang wanita yang mampu membuatku merasa
waktu berjalan begitu cepat saat aku bersamanya
Seorang wanita itu adalah dirimu ...

kekasihku, kau buat aku tersenyum setiap hari
kau buat aku merasa lebih sempurna sebagai seorang lelakimu
kaulah yang terpikir olehku saat ku bangun dan saat ku beranjak tidur
Aku selalu bahagia denganmu dan merasa disayangi
Aku tak lagi merasa sedih, sendiri, karenamu ...
Aku telah menemukan apa yang kucari
Dan tak akan pernah lelahku tuk selalu menyayangimu
kekasihku ...


seharusnya dirimu berhak tahu
bahwa malam tadi bayangmu masih saja mengikutiku
laksana tiang kehidupan dibalik lampu-lampu bergerak
padahal telah kuenyahkan rinduku sesaat kau pergi
bahkan hangatmu belum lagi hilang mendegup jantungku
bergetar sekencang lari sembrani kala malam menyergap
dalam ketakberdayaan atas takdir yang harus aku jalani
hingga kudapati kembali diriku terdampar pada kesunyian

entah kapan dapat kuraih hatimu yang suci
di puncak keindahan cinta
hingga manakala waktunya telah tiba
bagi bumi untuk memeluk langit
maka seharusnya tak ada lagi hati merindu
tuk menggapai segala angan
karena telah bersatu pada rasa atas nama cinta
tapi akankah hatimu benar-benar menjadi milikku ?
ah, biarlah takdir saja yang kelak berbicara ...


aku hanya bisa merindumu
tanpa bisa memberi nama
pada sebuah rasa yang sekali aku mencecapnya
lidahku kelu dan menyerah untuk berkata
sesuatu yang lama tapi tak pernah usang
sesuatu yang mengalahkan aku setiap aku melawannya
dan sesuatu yang melebihi harta yang mampu untuk membelinya

aku hanya bisa memandangmu
menyentuh bayang bayangmu
membiarkan aku tenggelam dalam setiap kepak sayapmu
untuk ku pada mu sesuatu telah menerbangkan aku
sesuatu yang membekukan khayalanku
sesuatu yang setia menemani sang waktu
dan sesuatu yang telah ada sejak sejarah
namun tak pernah usang

cinta ...