Pages

Friday, July 28, 2006


"Aku tidak bahagia dengannya.
Dia pemarah.
Dia sering memukulku
."

Aku pun hening mendengarnya.
Kamu bukan sekarung ampas gergaji, sayang.
Tempat menerima tubi-tubi pukulan.
Landasan angkara.
Kamu matahariku!
Aku bahkan tiada pernah menyakiti tubuhmu.
Pahatan Sang Pelukis alam yang terindah.

"Aku rindu kamu.
Aku rindu kelembutanmu.
Aku suka nangis kalau ingat itu semua.
Tuh kan ... sekarang aku jadi nangis.
"

Hela nafas menjalari belakang leherku.
Kamu telah bersamanya,
Dua cincin kembar yang melingkar di jari
Terikat dan mengikat dirimu dengannya.
Apa dayaku?

Saat ini, aku pun mengarungi sungai air mataku sendiri.
Dengan kecepatan ratusan kilometer per jam.
Di atas empat keperihan yang berputar.
Biarlah aku ikuti ke mana dia mengalirkan diri.
Sampai di mana?
Entahlah.
Keabadian, mungkin.
saat pujangga terluka
seketika airmata jadi rangkaian kata-kata
mencoba ungkapkan rasa
yang terkadang tak mampu terucap
harap lara hati dapat mereda
dengan rangkain kata-kata

saat luka hati mengangga
dan tak ada yang bisa hilangkan duka
pujangga mencoba bercerita
melalui rangkaian kata-kata
kepada dunia
tentang segala kekejaman cinta
dan segala kebenarannya
ingin semua mengerti
nestapa hati

cobalah mengerti
kalau pujangga ini bukan minta belas kasihanmu
hanya coba menyusun bait dengan indah
walau bercerita tentang sesuatu yang nestapa
agar pahit ini walau masih bisa kau rasa
walau sudah bersalut gula

saat pujangga terluka
air mata berubah jadi mutiara
mengeras dan abadi
tak mudah terlupa ...

Saturday, July 1, 2006

Contributed by : Ika
Publikasi Pertama

Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria
bukan dari kepala untuk memerintah semena-mena,
bukan dari kaki untuk menindas mereka yg lemah,
melainkan dekat dengan lengan untuk senantiasa dilindungi.
Dekat dengan hati, untuk dicintai ...