Pages

Wednesday, January 15, 2003

Maaf, aku terlalu emosi
Aku terlalu menutup mata
Sementara laraku membanjiri
Menuangkan segenap lava sara
Kamu pun terpuruk dilewati
Panas dan memelukmu membakar
Hingga tulang melebur nelangsa
Jeritmu tertelan gemuruhnya
Pekikmu terjerembab merata
Dan aku tiada memahami

Sayangku, maaf aku begitu sedih
Kukira kamu tidak menyayangiku lagi
Kukira kamu hanya berpura-pura
Karena belasmu padaku mencium rana
Aku bosan dengan kemunafikan dan kepura-puraan
Muak. Bosan. Terlalu jenuh akan semua itu
Kukira kamu lakukan karena keterpaksaan
Karena aku bocah aneh yang merindukan bulan
Dengan berjuta kecamuk di dalam dada
Kukira kamu begitu. Dan aku salah ...

Aku buta dan hanya bisa meraba
Tak tahu sayangmu sejukkan jiwa
Ibarat danau berair seperti permata
Tempat bidadari menumpang mandi sahaja
Begitu dalam sehingga tiada terjamah
Nan damai di dasar kalbumu, adinda

Maka maafkan aku, maafkan
Begitu rendah asaku melayang
Hingga dia mendesahkan angan
"Tolong, jangan hentikan sayangmu."
Jika kamu henti, hatiku ciptakan lara
Dan aku pun tenggelam di tengahnya
Maafkan aku. Aku terlalu emosi...

Sunday, January 12, 2003

Kasihi aku

Jika kamu adalah sepucuk harapan semu
Dapatkah ku telusuri dengan penuh hati?
Biarlah jatuh.
Asa layangkan sukma.
Keras hatiku. Sayang.
Melembut tersepuhkan indahmu.
Tak dapatkah kumiliki dirimu?
Untuk satu dua kejap kerlip bintang di langit kelamku.
Hilangkan sakit sanubari terus melara, Dindaku.
Hapuskan.
Cukup kering sakit dikandung dada.
Penuhi inginku.
Putri pemilik kecantikan tanpa cela.
Kasihi aku.
Kamu cantik, bidadari.
Sampaikah tanganku meraihmu ?
Jawabmu: "Tak akan pernah".
Lalu, biar kupeluk serpih harum tubuhmu.
Hingga larut dalam sepoi desahku.
Keindahanmu tiada terbatas.
Sampai aku terkapar merindu,
Dengar bunga mawar layu di jemari.
Sampai kapan aku dapat berpaling darimu?
Jawabmu: "Tak akan pernah".