Selamat Datang di catatan kehidupan yang sarat dengan noda, dosa, rasa, warna, dan hasrat tak terluluskan.
Saturday, April 12, 2008
Aku makin sayang kepadamu
Cintaku padamu menjulang ke nirwana
Sementara tanganku selalu terbuka
Siap mendekap dan memelukmu
Pelukan yang terhangat.
Sungguh, aku makin sayang
Biarlah aku simpan cintaku buatmu.
Dalam nafasku yang hangat mengaliri
Setiap jengkal tubuhku
Karena sayangku padamu kan abadi
Dan akan bertahan sampai nanti.
Kasih,
Aku makin sayang kepadamu.
Dengan air telaga kehidupan yang tak pernah padam
Dimana airnya dapat ku reguk dan ku nikmati
Hingga lekuk lambungku penuh terisi.
Kan kupanjat tiang langit
Dengan titian pelangi warna-warni
Ku pasang bulan tiruan sebagai pengganti
Hingga para bintang dapat berhenti tawanya
Dan kembali melaksanakan tugasnya
Menghiasi malam.
ada telaga bening dalam dirimu
yang setiap detik airnya memadu
sebuah hasrat yang kau sembulkan
lewat kapiler-kapiler darahmu
lewat saraf-saraf tubuhmu
lewat alur pikiranmu
bahkan lewat setiap rongga yang tak terkata
maka dunia akan berhenti berputar
menunduk dan turut katamu
bulan bintang menyanjungmu
mentaripun tersenyum puas
memandangmu,...
tapi jangan lupa
bahwa ada sebatang pohon yang harus kau ambil buahnya
dan kemudian kau tebang dengan lidahmu
Rinduku padamu adalah sebuah danau.
Aku ingin kamu berenang di dalamnya.
Akan kubasuh tubuh indahmu hingga bersih.
Dengan air sebening permata.
Perhiasan Nirvana.
Lepaskan semua kain satin itu, bidadari.
Poloskan lekuk tubuhmu.
Karena kamu tercipta dengan keindahan.
Sepuhan khayangan.
Dan biarkan air danau memelukmu.
Seperti satu haus yang takkan terpuaskan.
Infinity...
Bulan pun belum tampak sinarnya
Angin dingin bertiup menyelimuti
Dan aku masih disini
Hitungan kilometer berjarak
Dari tempatmu berada.
Angin itu menerbangkan sayapku
Dengan buih-buih kecil disekelilingnya
Meniupkan udara
Membuatku terangkat
Membawaku terbang
Entah kemana tak bertujuan
Kupejamkan mataku
Kurasakan aliran udara di atasku
Kuhirup dan kubiarkan ia hidup
Mengaliri dinding-dinding kalbuku
Saat itu aku berharap
Sayap dan udara itu
Membawaku menuju kepadamu.
cintaku sederhana,
tanpa pernah mengenal lelah,
seperti matahari yang selalu memberi,
hangat sinarnya setiap hari tanpa meminta.
duka itu dulu begitu dalam,
seakan mejadi bayang diri,
menjadi nafas yang selalu besertaku.
Sampai hari itu tiba,
menyerahkan cinta itu sepenuhnya,
menjadi lebur dengan cinta itu sendiri.
hingga kenangan dan masa lalu menjadi cermin,
tersenyum ketika perasaan itu tiba2 menyergapku,
dulu melelehkan beningnya air mata,
kini membangun diri untuk memberi.
seperti mawar di taman bunga,
menebarkan harum dan indah warnanya,
tanpa pernah memaksa orang untuk menikmatinya.
semakin lama semakin terhanyut
tenggelam dalam perasaan tak terkatakan
hingga terlihat dasar dari segala dasar
satu buah cinta yang orang lain tak bisa rasakan
Hidup adalah pengharapan
Seperti panas mengharap hujan
Dan putik pada serbuk sari
untuk membentuk buahnya
Hidup adalah pengharapan
Seperti mentari pada rembulan
Kala sinarnya yang tajam
Tak mampu lagi menyejukkan alam
Hidup adalah pengharapan
Seperti aku selalu padamu
Yang selalu bersinar menerangimu
Memancarkan cahaya lembut temaram
Membuatmu damai dan selalu tenang
Hidup adalah pengharapan
Seperti jiwamu pada sukmaku
Yang kusemaikan tiap butir benihnya
Sampai bertaman indah tak terkira
Hidup adalah pengharapan
Hingga lautan tak mencapai daratan
Hingga panas tak lagi berhujan
Hingga bumi tak lagi bertuan
Hidup adalah pengharapan
Dan hidupku ada padamu.
Semalam aku kembali
Menyusuri dunia yang mulai asing bagiku
Dunia yang dulu pernah kukenal
Dan membesarkanku dengan kasih sayang
Semalam aku kembali
Dalam riuhnya canda tawa
Dan alunan suara bak buluh perindu
Dari duniaku, para Siren
Ku coba alunkan satu dua bait kata
Dari mulut mungilku yang lama tak tersentuh
Segera cekat itu kurasakan
Dan wajahku dingin oleh keringat
Lidahku yang dulu lincah
Kini tumpul dari nada
Sungguh, aku tak merasakan apa-apa
Walau kulihat para Siren begitu menikmati
Alunan suaraku yang mereka dengar
Apa telingaku mulai tuli
Hingga ku tak dapat mendengar suaraku sendiri?
Aku hanya dapat merasakan
Gelegar kilat yang ku kirimkan
Dan gemuruh petir yang ku lebatkan
Ke lembah tandusmu, sayang
Sebagai ungkapan kesedihan
Dan perihnya jiwaku
Sungguh aku tak dapat menikmati
Apa yang seharusnya membuatku hidup kembali
Di duniaku, para Siren
Namun bukan itu yang jiwaku butuhkan
Melainkan uluran hangat jemarimu
Yang membawaku ke tempat seharusnya kuberada
Di lembah gersangmu,
Le Prairie ...
Berikan daku setetes air mata dari mata indahmu tuk bebaskan perihku
Kasihi aku, duhai peri ruhsana ...
Dan dengan tongkat bertabur berlian di jemarimu
yang kau ayunkan dihadapanku
Jiwaku berputar
Sukmaku melayang
Dan kalbuku kembali terisi sesak
seiring memudarnya bintang-bintang
Perihku telah lepas
Dukaku telah musnah
Dan senyummu mendamaikan hatiku
Duhai peri ruhsana
Andai kau tetap disini
Menemani sunyinya detak jantungku
yang kau degupkan kembali
Terima kasih untuk malam ini.
Rasanya Kilau Rembulan menyapuku.
Perihku lenyap sudah, putri.
Dan kasihmu menyelimutiku.
Seperti gelisah awan yang berdesakan.
Geloranya desaukan setiap patah namamu.
Ukirkan! Setiap lekuk indah peri budimu.
Di setiap palung sanubari manusia fana.
Dan akan tetap abadi.
Selamanya.
Terima kasih untuk malam ini.
Ranaku takkan terucapkan lagi.
Karena terjerat dalam kerlingmu.
Setiap tetes racun hidupnya.
Leburkan dalam tanur sara. Tempa !
Dan jadikan sebagai gagang pintu kejora
Dari Kebunmu, wahai pujaan peri malam,
Tempat kuncup kuncup kasihmu bersemi,
Dan sejukkan romansaku, ruhsanaku
Selamanya.
Walau semua harapanku kau campakkan di kakiku
Dan aku harus memungutnya kembali
Dan membersihkan sisa debu yang menempelinya
Apa aku tak pantas lagi bermimpi?
Walau semua impianku telah kau hancurkan
Hingga serpihannya mengenai wajahku
Dan membuatnya luka
Apa aku tak pantas lagi berkhayal?
Walau semua itu kau singkirkan dari benakmu
Dan aku harus merebutnya kembali
Untuk membuatku tetap hidup.
Mudah sekali kau berbicara
"Lupakan aku!" begitu katamu
Sementara gaung suaramu masih menggema di kalbuku
Dan denting gitar pun masih berbunyi
"Aku rapuh!" begitu ucapmu
Sementara dinding besar berdiri kokoh mengelilingimu
"Siapa yang lebih rapuh?!" tanyaku kembali
Sambil memapah kedua kakiku yang mulai lumpuh
"Kau pergi setelah kau ambil apa yang 'ku punya
Dan kau tak merasa apa-apa."
Begitu kejamnya kau tusuk aku dengan pedangmu
Sementara hanya sebatang lidi yang ku punya
Kau yang dulu begitu hangat dengan canda dan tawamu
Sekarang pun tak lagi menoleh padaku
Kau memang mati
Setidaknya bagi dirimu sendiri.
Sunday, April 6, 2008
UNTUK DIA
Kepada bintang,
kecup dia untukku.
Hangatkan malam dan lelapkan tidurnya.
Bergemerlaplah untuknya.
Kepada mentari,
kutitip peluk dan kecupan selamat pagi
kala kau sentuh kulit pualam itu
Kepada angin,
bisikkan padanya bahwa separuh hatiku
adalah miliknya. Akan selalu menjadi milikknya.
Kepada bunga disegala bumi,
semerbaklah.
Terjemahkan cerita cinta ini kepadanya
katakan padanya bahwa aku akan selalu mencintainya.
NAMAMU ...
Kala itu aku kalap
ku bagi diriku jadi berjuta nyawa
Agar dapat ku nikmati setiap musim
bermain pada semua warna bumi
berbagi dan berputar
sebelum ku kafani satu persatu
mengusung hati bernanah itu dengan dinginku
aku belum ingin berhenti.
Lalu waktu menyapaku ...
menawarkan insan segemerlap permata
'ku rangkai kata pujian
rayuku mental oleh semerbaknya
bangkitkan aku.
aku tak mau terus mati.
Lalu,
'ku wudhui jiwa dan tubuhku.
mengatakan pada tetanaman liar
untuk berhenti menjalari aku.
karena aku tak lagi jalang.
Mentari keemasan kala itu
tapi kemilaunya ada padamu
dan aku ...
tak lagi berputar
tak ingin bermain lagi
aku bangkit ...
berjalan dengan separuh jiwa yang sekarat
namun aku telah berhenti.
pada satu titik.
namamu ...
Tutup pintumu.
Kamu tahu aku telah masuk dan duduk didalamnya
jangan takut aku akan melangkahimu,
akan ku jadikan duniamu seindah duniaku.
Tutup pintumu.
rasakan hatimu bergetar karenaku.
ketika tatapan mata ini beradu,
dan kau nikmati senyumku,
Maaf. Tapi kamu tidak dapat pergi lagi.
Tutup pintumu.
biarkan aku bertahta dihatimu.
Melewati batas waktu darat dan lautan
kamu tak perlu lagi mencari.
sebab telah kau temukan cinta.
malam minggu lagi
ternyata aku masih sendiri
...........
padahal kemarin kupikir kau berjalan melangkah bersamaku
padahal kemarin aku pikir kau bercerita denganku
dan aku begitu terbuai
terpesona oleh semua cerita, tawa dan canda mu dan kita
..........
tetapi saat kusadari kau berbalik langkah
sambil berkata...
aku ingin kembali dan tak ingin bersamamu
aku lupa dan tak sadar diri saat bersamamu
jadi, melangkahlah engkau sendiri kembali
..........
simple....
jujur ........
dan menyakitkan............
..............
Malam minggu lagi
kembali aku meniti sepi
sambil menata kembali serpihan-serpihan hati
yang -entah - sengaja atau tidak
telah kau hancurkan
kembali aku berkidung tanpa nada
bersenandung tanpa irama
.............
Malam minggu lagi
aku coba untuk menanti dan mencari
satu kata yang katanya sangat indah apabila dijalani
satu kata yang katanya sangat berbunga didalamnya
satu kata yang katanya sangat memikat dalam ceritanya
satu kata yang katanya sangat didamba oleh semua orang
satu kata yang katanya dimiliki setiap orang...
satu kata itu cinta ...
katanya ...
terhenyak aku pada satu keadaan
dimana aku tak dapat lagi melihatmu
dimana aku tak dapat lagi menjangkaumu
.....
aku coba untuk berlari untuk mengejarmu
aku habiskan engahan nafasku hanya untuk mensejajarkan diriku
aku tempuh semua belantara nestapa
ku himpitkan semua ego didada
hanya untuk memanggilmu
.....
kini termenung aku pada sepinya pelabuhan
terdiam aku menatap renjana yang telah habis terbakar
terlena aku mengingat semua tentangmu
tertunduk aku hingga tak sanggup tuk ucapkan
"Aku sayang padamu"
.....
rasa itu kini telah tiada
jiwa yang mencinta sudah binasa
bathin yang mendamba telah sirna
asmara pun padamlah sudah
.....
kucoba sekali lagi dan sekali lagi menjerit
namun tak jua pernah terdengar
satu teriakan jiwa pada indramu
ku coba sekali lagi dan sekali lagi menggapai
namun tak jua tolehkan wajah dan hatimu
pada diriku yang semakin terpuruk pada kegetiran asa
.....
kini aku membisu, kaku dan membeku
menatap pedih pada perahu jiwamu yang telah jauh berlayar
ataukah diri ini yang terhanyut di lautan ketakpastian
lirih ku berkata pada diri ini
.......
When Love Must Die ..................
ABADI
Tidak ada yang berubah.
Bahkan ketika langkah kaki itu beranjak pergi,
aku masih menyimpan jejaknya.
Tidak ada yang berubah.
Bahkan ketika rinai hujan berhenti berganti pelangi,
aku masih menyembunyikan nuansanya disudut kamarku.
Tidak ada yang berubah.
Tidak pada palang-palang bambu dijalanku,
tidak pada kilauan permata kiri kanan pijakanku.
Tidak ada yang dapat merubahnya.
Dan tidak ada pula yang sanggup menggeser bayang itu.
Dari hatiku.
Jika rasa ini adalah Cinta,
Mengapa dia begitu menyakitkan ?
Cinta seharusnya hangat.
Tidak membakar habis hatiku beku.
Yang melelehi lantai dingin asaku.
Jika rasa ini adalah Cinta,
Mengapa dia tega mengkhianatiku ?
Belati tajam gading simbah darah.
Tertancap di punggungku.
Serasa mati.
Jika rasa ini adalah Cinta,
Mengapa dia mengutukku
Tiada berakhir ...?
Aku sekarat walau tak terluka
hatiku berdarah
uratku tercabut paksa
aku hampir menyerah
kuburkan aku.
Tapi melihat kamu,
aku harus terus hidup!
Agar dapat 'ku ingat seseorang yang aku cintai,
tapi tidak mencintai aku!
Dan,
aku hidup hingga detik ini.
puas dengan merapalkan namamu,
mencintaimu,
mencintaimu ...
dan mencintaimu !!!