Pages

Friday, July 28, 2006


"Aku tidak bahagia dengannya.
Dia pemarah.
Dia sering memukulku
."

Aku pun hening mendengarnya.
Kamu bukan sekarung ampas gergaji, sayang.
Tempat menerima tubi-tubi pukulan.
Landasan angkara.
Kamu matahariku!
Aku bahkan tiada pernah menyakiti tubuhmu.
Pahatan Sang Pelukis alam yang terindah.

"Aku rindu kamu.
Aku rindu kelembutanmu.
Aku suka nangis kalau ingat itu semua.
Tuh kan ... sekarang aku jadi nangis.
"

Hela nafas menjalari belakang leherku.
Kamu telah bersamanya,
Dua cincin kembar yang melingkar di jari
Terikat dan mengikat dirimu dengannya.
Apa dayaku?

Saat ini, aku pun mengarungi sungai air mataku sendiri.
Dengan kecepatan ratusan kilometer per jam.
Di atas empat keperihan yang berputar.
Biarlah aku ikuti ke mana dia mengalirkan diri.
Sampai di mana?
Entahlah.
Keabadian, mungkin.

No comments: