TERATAI BERLABUH DI SURGA
Sampai kapankah Adinda merana
Siang menghilang, malam menelan
darah-darah yang berguguran di atas Bumi
Usai Fajar mengerang malam ... ah,
betapa syahdu ku dekap nyanyian itu
Berjatuhan di tengah derasnya pilu rasa derita fana
Kanda bersandar pada bahu Sang Mawar :
apakah surga sunyi tidak mendekapmu, Adinda
dalam keheningan ruh, keramaian surgawi ?
Kanda merasa jatuh dalam sebuah sungai tak beriak
teringat semua suratan langit yang terbentang di mata laut ...
Kanda tersimpuh di kaki Sang Melati :
Ampunkanlah khilaf rajani, Dinda
Inilah rasa sesat itu ... inilah rasa takdir yang menghunjam Dinda
Sesak
Sang durjana kegelapan datang
Dinda, tak adakah rasa sesal bertahta ?
Kanda berlari mengejar Angin membawa Sang Anyelir :
Dengarlah lawatan tangan Kanda
Guratan sengsara akan terpancar jelas disana
Tampikkanlah segala yang fana, Dinda mengerang
Sekujur tubuh bermandikan lumuran kenaifan hati Dinda
Tak 'kan Dinda usai berlabuh ...?
Kanda mencari Sang Teratai :
Dimanakah hati Kanda berada, Teratai malang ?
Selendangmu terkulai di bawah bayang pohon aras
Warna merah, memutih, memudar
Tanah basah terinjak oleh debu waktu, membawa
Kanda nelangsa dalam tujuh samudra
Dinda Teratai... tak kan terulang hati Kanda
untuk selalu mengenang jiwa Dinda...
Mawar telah usai
Melati telah luruh
Anyelir telah berkabung
Hanya Dinda'lah pembawa surgawi bagi Kanda ...
Tidakkah Teratai luruh di tangan Kanda ?
Sampai kapankah Adinda merana
Siang menghilang, malam menelan
darah-darah yang berguguran di atas Bumi
Usai Fajar mengerang malam ... ah,
betapa syahdu ku dekap nyanyian itu
Berjatuhan di tengah derasnya pilu rasa derita fana
Kanda bersandar pada bahu Sang Mawar :
apakah surga sunyi tidak mendekapmu, Adinda
dalam keheningan ruh, keramaian surgawi ?
Kanda merasa jatuh dalam sebuah sungai tak beriak
teringat semua suratan langit yang terbentang di mata laut ...
Kanda tersimpuh di kaki Sang Melati :
Ampunkanlah khilaf rajani, Dinda
Inilah rasa sesat itu ... inilah rasa takdir yang menghunjam Dinda
Sesak
Sang durjana kegelapan datang
Dinda, tak adakah rasa sesal bertahta ?
Kanda berlari mengejar Angin membawa Sang Anyelir :
Dengarlah lawatan tangan Kanda
Guratan sengsara akan terpancar jelas disana
Tampikkanlah segala yang fana, Dinda mengerang
Sekujur tubuh bermandikan lumuran kenaifan hati Dinda
Tak 'kan Dinda usai berlabuh ...?
Kanda mencari Sang Teratai :
Dimanakah hati Kanda berada, Teratai malang ?
Selendangmu terkulai di bawah bayang pohon aras
Warna merah, memutih, memudar
Tanah basah terinjak oleh debu waktu, membawa
Kanda nelangsa dalam tujuh samudra
Dinda Teratai... tak kan terulang hati Kanda
untuk selalu mengenang jiwa Dinda...
Mawar telah usai
Melati telah luruh
Anyelir telah berkabung
Hanya Dinda'lah pembawa surgawi bagi Kanda ...
Tidakkah Teratai luruh di tangan Kanda ?
No comments:
Post a Comment