Aku bukanlah seorang pujangga yang bisa bermulut manis,
Aku hanya seorang pria biasa yang menuliskan kata-kata puitis
Merangkai kata demi kata untuk menghilangkan rasa penat dan keresahan
Bukan merangkai kata untuk menjadi sebuah rayuan
dan gombalan manis untuk memikat seseorang
Pujangga bermulut manis memang terlihat menarik,
bisa memberikan rayuan-rayuan manis kepada siapa saja.
Didalam asa dan benak ku, aku tak ingin memberikan rayuan dan janji manis
karena ini semua dapat menghancurkan ekspektasi orang lain.
Aku tetap tegar dengan apa pun yang aku lakukan,
karena aku adalah tegar.
Merangkai kata puitis untuk menyenangkan diriku sendiri.
Aku bukan lah seorang yang romantis
yang bisa bermulut manis melontarkan kata-kata rayuan.
Tidak bisa bermulut manis dan romantis
bukanlah sesuatu yang terlihat sadis.
Merangkai kalimat puitis dalam goresan pena sudah sangat cukup bagiku.
Ketegaran diriku untuk menjadi diriku yang apa adanya
tanpa harus menjadi palsu demi disenangi oleh orang lain.
Karena aku terkadang merasa geli
untuk menjadi seseorang yang bisa bermulut manis.
Melakukan aksi terhadap orang yang di sayang terkadang sudah lebih dari cukup.
Melontarkan kata "Aku Sayang Kamu" sudah sangat luar biasa bagiku.
Tanpa harus mengucapkan kata-kata sanjungan setiap saat
yang membuat bulu kuduk ku berdiri.
Karena aku bukanlah seorang pujangga cinta
yang bisa meromantisasi setiap ucapan.
Kesenanganku hanya menuliskan kalimat puitis,
pesimis, dan tidak ada kesan romantis.
Keresahan demi keresahan aku tuangkan ke dalam kertas putih
agar bisa memberikan rasa tenang dalam diriku
dan menghilangkan kegelisauan dari dalam hati
yang selalu membuatku gelisah.
Bagiku lebih baik bisa menuliskan kalimat puitis
daripada menjadi orang yang selalu bermulut manis.
Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing
untuk menunjukkan eksistensinya.
Ini adalah caraku untuk mengungkapkan segala rasa yang ku pendam.
Aku hanya seorang yang mencoba menjadi puitis,
bukan menjadi pujangga bermulut manis.
No comments:
Post a Comment