NELANGSA HATI
Mudah sekali kau berbicara
"Lupakan aku!" begitu katamu
Sementara gaung suaramu masih menggema di kalbuku
Dan denting gitar pun masih berbunyi
"Aku rapuh!" begitu ucapmu
Sementara dinding besar berdiri kokoh mengelilingimu
"Siapa yang lebih rapuh?!" tanyaku kembali
Sambil memapah kedua kakiku yang mulai lumpuh
"Kau pergi setelah kau ambil apa yang 'ku punya
Dan kau tak merasa apa-apa."
Begitu kejamnya kau tusuk aku dengan pedangmu
Sementara hanya sebatang lidi yang ku punya
Kau yang dulu begitu hangat dengan canda dan tawamu
Sekarang pun tak lagi menoleh padaku
Kau memang mati
Setidaknya bagi dirimu sendiri.
No comments:
Post a Comment