Bagiku, Rindu adalah sekuntum mawar putih, sahabatku.
Cantik seperti sepuhan surga.
Suci dan syahdu layaknya air mata sang rembulan.
Indah.
Namun belukar duri di tubuhnya.
Ketika aku memetiknya.
Duri-duri itu merobek pembuluhku.
Memuntahkan tetesan darah.
Hingga kelopaknya menjadi merah muda.
Mencicipi darahku.
Mengapa harus darah yang menetes?
Bukan gulanaku?
No comments:
Post a Comment