Pages

Sunday, September 17, 2006

Bagiku, Rindu adalah sekuntum mawar putih, sahabatku.
Cantik seperti sepuhan surga.
Suci dan syahdu layaknya air mata sang rembulan.
Indah.
Namun belukar duri di tubuhnya.

Ketika aku memetiknya.
Duri-duri itu merobek pembuluhku.
Memuntahkan tetesan darah.
Hingga kelopaknya menjadi merah muda.
Mencicipi darahku.

Mengapa harus darah yang menetes?
Bukan gulanaku?

No comments: