Kenapa kamu tak beri obat itu padaku ?
Atau paling tidak hembusan desahanmu kau titip pada angin malam
Yang sepoinya bisa membelaiku di ujung malam
Yang setiap itu ku tulis puisi kerinduan untukmu
Yang sepoinya bisa membelaiku di ujung malam
Yang setiap itu ku tulis puisi kerinduan untukmu
Kamu tahu,…
setiap hari kukejar bayanganmu
namun tak dapat kuraih maksudmu
Aku hanya bisa melihat samarmu membelakangiku
Ah,… aku susah tersenyum
Kamu tahu,…
Endapan diujung rongga ini semakin menebal
Kamu tahu,…
Irama lagumu selalu terdengar
Kadang melengking tinggi, kadang mendesah lemah
Dan aku tak ingin tak mendengar alunan lagu itu,
Lagu yang bernada biru bukan sendu atau nelangsa
Yang setiap saat selalu terdengar,
Walau dalam tidur sekalipun
Nadamu selalu terngiang disetiap langkahku
Yang juga tak kuketahui dimana berhentinya
Dalam hutan yang tak lebat ini aku sendiri,
Benar-benar sendiri
Tapi tak kurasakan sendiri itu, toh aku sudah terbiasa sendiri
Aku benar-benar tak perduli dengan kerasnya batu
Yang saling menonjol angkuh
Seolah ingin menunjukkan kecongkakannya
Yang aku pedulikan hanya lagu itu,
Yang membawaku terus berjalan
Menyeberangi sungai, hutan, lembah, dan celah sempit yang ada ditempat ini
Dan juga yang ada dalam otakku
Nadamu yang membawaku menyeberang masa lalu melintasi ruang dan waktu
Nadamu semakin mendekat, menggelitik usik
Dalam telinga, dalam hati, dalam labirin otak, dalam plasma darah,
Dalam semuanya,…
Sesungguhnya aku hanya ingin kau ada
Aku ingin saat bercermin kulihat wajahmu disampingku
Dan lebih ingin lagi,
Aku bisa merasakan hangatmu saat ini,
Rasanya rindu ini sudah begitu menohokku
Mendamparkanku dipulau tak terpeta, tak terbayang.
No comments:
Post a Comment