Pages

Wednesday, May 7, 2008

NELANGSA HATI

berjalan tertatih menyangga dada
telapak tangan menutup luka yang menganga
masih basah, masih perih, masih berdarah
jantung menggelantung mengintip lorong kematian
hati teriris-iris belati yang terselip
di tiap huruf dari kata-kata yang terucap

sayap hati patah lunglai
tak mampu mengepak dalam kedalaman telaga airmata
airmata menjadi darah
sedu sedan tangis menjadi nyanyian hati
menggetarkan jiwa gemetar

engkau menjadi siang yang memberi terang
namun engkau pula yang menjemput malam
memberikan kegelapan tanpa kesadaran
hingga pagi menjadi awal perjalanan kegelapan berikutnya
nyanyian yang menggemetarkan jiwa kembali memeras airmata

engkau datang memawa setangkup kepedihan
sungguh kuterima,...
engkau pergi meninggalkan kesadaran yang mengambang
langit biru belum juga bicara lewat putih awannya
pintu lumbung senyum dalam relung hati belum juga terbuka

mungkin pedang yang menembus tubuhku
rohnya masih bergentayangan dalam darahku
hingga menatap kepergianmu adalah kaca benggala keperihan
punggungmu menjadi cermin retak membiaskan luka
ku tersungkur tiap kali menatap

desah nafas hangat menambah keperihan
nyanyian sedu sedan mengeringkan telaga airmata
hingga menangis bagiku adalah bernafas

No comments: