CURHAT
Sahabat datang dengan berlembar bincang
mantra-mantra Cinta ia racaukan
Meledak-ledak seperti Merapi saat menggendam
gendang telingaku ditabuhnya tanpa henti
hingga mataku tanpa kedip
Tunjukkan sebuah gambar ukuran sedang
hatiku tergoncang menatap poto perawan
anganku terseret kebelakang, aku tersentak
Perawan yang pernah mengerang telanjang, dalam pelukku
pernah menangis dan tertawa dalam dekapku
Kudatarkan permukaan wajahku
agar tak tahu anak krakatau didalam selat
menahan magma dalam dada
Sahabat tertawa riang hati terbaca senang
mengartikan tatapan sebagai persetujuan
Aku katakan;
.... perawan sebaik tatapan matanya
.... perawan sehangat senyumnya
Senyum mutiara dalam peluk kerang
hatiku mengepal, jiwaku bergetar
sahabat berlalu tinggalkan tumpukan geram tertahan
Tak mungkin bergeser dari dudukku
menatap sepasang mata binar
membelakangi raut wajah rindang peneduh hatiku, dulu
Bila seorang sahabat tertikam belati Cinta
jiwaku tergerak membenamkan belati Cinta dalam dadanya
agar sempurna kenikmatan perihnya
Walau kutahu, hatiku terlumuri darahnya
Darah menjadi airmata ...
No comments:
Post a Comment