Pages

Friday, August 23, 2024

Di tengah malam yang sunyi membisu,
Hati terjebak dalam benang-benang waktu.
Langit gelap tak ada bintang menari,
Aku terhanyut, tak tahu kemana diri ini.

Kalut merayap perlahan,
Mengguncang jiwa yang dulu tenang.
Pikiran berserak bagaikan debu di udara,
Entah dimana ku harus menambatkan rasa.

Suara-suara berbisik, menggema di kepala.
Menggoyahkan langkah yang dulu penuh dengan makna.
Apakah ini badai yang tak pernah usai ?
Ataukah hanya bayang-bayang yang tersisih di tepi ?

Aku mencari tenang di antara gaduh,
Namun kabut selalu menyelubungi luruh.
Dimanakah ujung dari jalan nan gelap ?
Akankah 'ku temukan jawaban di balik kabut tebal ini ?

Namun meski kalut menguasai hati,
Ada cahaya kecil yang tak berhenti menyala.
Meski redup, dia tak pernah padam,
Memberi harapan di tengah malam yang kelam.

Pertemuan

Di persimpangan waktu yang tak terduga,
Kita bertemu di bawah langit yang tak bicara,
Kata-kata tersimpan dalam tatap mata,
Seolah semesta sengaja menorehkan cerita.

Jejak langkah yang perlahan mendekat,
Menyulam harapan dari sunyi yang pekat,
Dalam diam, hatiku berbisik pelan,
"Inikah pertemuan yang aku simpan dalam angan?"

Tak perlu kata panjang terucap,
Cukup senyuman, rasa sudah terjawab,
Hadir dirimu, bagai hangat mentari,
Menyentuh hati yang lama mencari.

Setiap detik seolah tak ingin berlalu,
Dalam pertemuan kita yang begitu syahdu,
Segala keraguan perlahan sirna,
Karena hadirmu membawa cahaya.

Pertemuan terindah, aku yakin kini,
Adalah saat aku dan kamu, tanpa ragu lagi,
Menyatukan cerita dalam ruang tak terukur,
Di bawah langit malam, rasa kita terukir.


Ketika gelap datang menyelimuti,
Jangan takut, jangan bersembunyi.
Ada cahaya di balik mendung,
Yang menunggu waktu untuk menyambung.

Badai yang hadir takkan selamanya,
Hati yang rapuh bisa bersuara.
Percayalah pada jalanmu sendiri,
Semua akan indah di waktu yang pasti.

Langit mungkin berwarna kelabu,
Namun jiwa tetaplah menyala biru.
Di setiap lelah, ada jeda yang tenang,
Dalam hening, temukan kembali terang.

Friday, August 9, 2024

Hubungan Yang Dewasa #2

Mencintai bukan perihal siapa yang lebih dulu mampu memikat hati. 

Namun soal siapa yang dengan tulus tetap bertahan dan tak berniat untuk pergi.

Mencintai juga bukan tentang siapa yang paling banyak berjuang. 

Melainkan bagaimana masing-masing hati mampu mempertahankan 

hubungan di segala keadaan.

Sama halnya seperti saat ini, jatuh hati kepadamu 

adalah sesuatu yang tak pernah kusesali.

Sekalipun dalam perjalanannya penuh dengan bahagia dan juga air mata. 

tapi, perasaanku terhadapmu tak pernah berubah, 

yakinku kepadamu itu juga pasti.

Cinta bukan tentang lamanya perkenalan, tapi getaran hati yang tulus.

Lagipula cinta bukan tentang menemukan yang sempurna, 

tapi mau menerima kekurangan dengan sempurna.

Sebab, ketika cinta hadir, tidak ada yang sempurna. 

Kita semua memiliki kelemahan dan kekurangan, 

namun cinta mampu melihat di balik itu semua.

Cinta itu tentang memahami, menghargai, dan tumbuh bersama 

meski dalam ketidaksempurnaan.

Hubungan Yang Dewasa #1

Di bentuk oleh dua orang yang saling belajar dari masa lalunya 

serta saling bekerja sama membangun pola masa depan yang jauh lebih baik.

Karena saat kita memilih seorang pasangan, kita memilih cerita hidupnya juga. 

Kita memilih masa lalunya yang mencakup trauma, 

kesakitan, luka, bahkan juga penyakitnya.

Semua harus bisa kalian rangkul secara bersama. 

Keduanya perlu untuk saling melengkapi dan bertanggung jawab 

agar menuliskan masa depan yang jauh lebih baik.

Ingat ! Ini bukan tentang ketergantungan, 

tapi ini tentang bentuk kesungguhan hati.

Thursday, August 8, 2024

Aku Bukan Pujangga

Aku bukanlah seorang pujangga yang bisa bermulut manis,
Aku hanya seorang pria biasa yang menuliskan kata-kata puitis
Merangkai kata demi kata untuk menghilangkan rasa penat dan keresahan
Bukan merangkai kata untuk menjadi sebuah rayuan 
dan gombalan manis untuk memikat seseorang

Pujangga bermulut manis memang terlihat menarik, 
bisa memberikan rayuan-rayuan manis kepada siapa saja.
Didalam asa dan benak ku, aku tak ingin memberikan rayuan dan janji manis 
karena ini semua dapat menghancurkan ekspektasi orang lain.

Aku tetap tegar dengan apa pun yang aku lakukan,
karena aku adalah tegar.
Merangkai kata puitis untuk menyenangkan diriku sendiri.
Aku bukan lah seorang yang romantis 
yang bisa bermulut manis melontarkan kata-kata rayuan.

Tidak bisa bermulut manis dan romantis 
bukanlah sesuatu yang terlihat sadis.
Merangkai kalimat puitis dalam goresan pena sudah sangat cukup bagiku.
Ketegaran diriku untuk menjadi diriku yang apa adanya 
tanpa harus menjadi palsu demi disenangi oleh orang lain.

Karena aku terkadang merasa geli 
untuk menjadi seseorang yang bisa bermulut manis.
Melakukan aksi terhadap orang yang di sayang terkadang sudah lebih dari cukup.
Melontarkan kata "Aku Sayang Kamu" sudah sangat luar biasa bagiku.

Tanpa harus mengucapkan kata-kata sanjungan setiap saat 
yang membuat bulu kuduk ku berdiri.
Karena aku bukanlah seorang pujangga cinta 
yang bisa meromantisasi setiap ucapan.

Kesenanganku hanya menuliskan kalimat puitis, 
pesimis, dan tidak ada kesan romantis.
Keresahan demi keresahan aku tuangkan ke dalam kertas putih 
agar bisa memberikan rasa tenang dalam diriku 
dan menghilangkan kegelisauan dari dalam hati 
yang selalu membuatku gelisah.

Bagiku lebih baik bisa menuliskan kalimat puitis 
daripada menjadi orang yang selalu bermulut manis.
Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing 
untuk menunjukkan eksistensinya.
Ini adalah caraku untuk mengungkapkan segala rasa yang ku pendam.
Aku hanya seorang yang mencoba menjadi puitis, 
bukan menjadi pujangga bermulut manis.


Pengakuan

Februari yang lalu, tepat di hari ulang tahun ku, 
hatiku tertaut padamu.
Dan yang paling membingungkan lagi, 
bahkan nalar ku pun tak mampu menjelaskan
mengapa aku jatuh hati kepadamu.

Aku sempat berfikir 
bahwa dirimu adalah sebuah fenomena ketidakmungkinan semata
namun ternyata aku salah ...
Ketidakmungkinan ini terus tumbuh,
akarnya menjalar mencengkeram kehidupan ku
dan ranting nya menusuk tajam ke hati dan pikiran ku.

Ratusan malam berlalu ...

Senyum manis mu terus mengisi mimpi-mimpi ku.
Binar bening matamu selalu mampu menyeretku ke pusaran pesona mu
Senandung lagu-lagu yang kau nyanyikan selalu menggema di telinga ku.
Gemasnya tawa mu selalu mampu membuatku tersenyum.

Tetes airmata mu nyaris selalu mampu 
membuatku bergerak untuk memeluk dan membunuh lara mu.
Dan kala dirimu hadir tanpa tabir cantikmu,
jiwaku tertegun begitu dalam, dan wahai tautan hati
di momen itulah diriku terpesona dengan kecantikan mu yang sesungguh nya.

Dan tepat di hari itu separuh hatiku 
tersandera oleh pesona mu yang selalu mampu memabukkan logika ku.

Aku mulai gusar, karena merindukan mu.
Aku mulai kepo, tentang segala akan dirimu.
Aku ingin selalu menjadi sandaran mu, bantal guling mu,
Aku bahkan ingin menjadi sansak pelampiasan segala kekesalan mu.

Aku ingin selalu mendengarkan mu
tak hanya segala keluh-kesah mu
tapi juga pahit-getir, bahkan sumpah-serapah mu.

Simpanlah semua rahasia tergelapmu di sudut hatiku,
sehingga tak perlu lagi kau tanggung beban itu.
Aku ingin selalu mampu hadir dimana pun dirimu berada,
Entah jam berapa pun saat itu dirimu menginginkan nya.
Karena aku mengerti sepenuhnya apa arti kesendirian.

Psikologi Cinta

Jika kamu cinta karena dia mencintaimu, 
itu bukan cinta tapi empati.
Jika kamu cinta karena harta atau pun uang,
itu bukan cinta tapi tertarik.
Jika kamu cinta karena penampilan nya, 
itu bukan cinta tapi obsesi.
Jika kamu cinta karena kebaikan nya,
itu bukan cinta tapi kekaguman.
Jika kamu cinta karena pandangan pertama,
itu bukan cinta tapi gairah.
Namun jika kamu cinta tapi kamu bingung kenapa bisa mencintainya,
maka sudah di pastikan kamu benar-benar cinta.

Dan satu hal yang bisa disimpulkan :
Loving someone is easy and fun if the person IS the right person.


Thursday, June 20, 2024

Aku rindu tapi aku tidak mencari mu

Aku ingin bicara tapi aku tidak menghubungi mu

Semua itu karena aku tidak ingin mengganggu mu, 

bukan karena aku tidak mau berjuang atas perasaan ku.

Hanya saja, aku menahan diri, sadar diri, dan tahu diri.

Aku punya rindu untuk sebuah nama, 

Nama itu aku sematkan di lubuk hati yang paling dalam.

Nama itu tak dapat dihapus oleh siapa pun, 

Kecuali dia sendiri yang menghapus nya.

Begitu pun dengan rasa cinta ku, tidak akan pernah hilang, 

kecuali dia yang menyuruh ku pergi dari hati & hidup nya.

Do'a Untuk Ketidakmungkinan

Meskipun kita tak berakhir bersama 

Aku mendoakan mu ...

Agar siapapun yang sedang ataupun akan kau cintai, 

Akan memperlakukan mu lebih baik daripada caraku.

Akan mampu mencintai mu lebih tulus daripada aku.

Akan lebih sabar mendengarkan segala keluh kesah mu daripada aku.

Dan semoga kau akan sama berarti nya seperti kau begitu berarti bagiku.

Beberapa orang memang lebih beruntung daripada orang lain, 

mungkin aku berada di bagian mereka yang kurang beruntung, 

karena aku tidak bisa bersama orang yang aku cintai.

Tapi tidak apa-apa, tidak masalah.

Wajah cinta memang berupa-rupa

Dan dari mengalah, aku berbesar hati untuk menerima 

bahwa aku belum cukup untuk mu.

Terima kasih telah hadir dalam hidupku.

Bahagia ku

Pasangan hatiku, tahukah kamu ...

Bila engkau menjadi badai yang penuh dengan gemuruh,

maka aku akan menjadi satu-satunya orang yang tidak akan berteduh


Dan bilamana engkau menjadi samudra luas nan dingin,

maka aku akan menjadi satu-satunya orang yang melubangi perahu ku,

karena tenggelam adalah satu-satunya cara untuk tetap bersama mu.


Jangan tanya kenapa, aku hanya mengejar bahagia ku

Dan bahagia ku hanya ada padamu. 

Wednesday, May 7, 2008

wanita berkerudung hitam
datang dengan sapa salam
melangkah perlahan dekati altar sembahyang
doa terucap penuhi langit sepertiga malam
kekhusyukan hindarkan pelukan setan
sujud khidmat satu tujuan

wanita berkerudung hitam
menghiasi malam dengan zikir kalam
memberi aura bagi istana sederhana
memberi cahaya bagi wajah anggun dirinya
bersihkan hati dari angkara

wanita berkerudung hitam
mendamba tambatan sukma
tuk arungi samudera fana
Engkau menjadi pagi
bangunkan aku dari ketidaksadaran
menggugah hatiku mengingat tikar sembahyang
melukis harapan dikanvas fajar
menyanyikan lagu riang lewat kicau burung-burung
menyejukkan hatiku dengan suara gemericik air pancoran
kau sederhanakan langkahku dengan senyummu

Engkau menjadi siang
menerangi jalanku tunjukkan arah langkahku
menggambarkan padaku dunia baru
tentang dialog jiwa-jiwa penghuni hari
tentang perbedaan yang warnai hari
tentang terik yang kadang menyengat kulitku
tetang kata-kata yang kadang menyakiti hatiku
kau tuang makna dalam cawan kehidupanku

Engkau menjadi senja
menunjukkan padaku arah pulang
melukis harapan esok diatas kanvas lembayung
memberikan keindahan saat cakrawala memeluk mesra mentari
mengingatkan padaku tentang awal dan akhir saat mentari kembali keperaduan
memberikan aku arti tentang perjalanan hari

Engkau menjadi malam
menutup pintu jiwaku dari kegaduhan
melepaskan pakaian lelahku kau tanggalkan dialmari jeda
membelaiku dalam pelukan lelap
memberikanku bunga dalam tidurku
engkau menjadi kata terakhir sebelum kelopak mataku bertemu
engkau menjadi hariku
Wajahmu membayang dilayar panggung sandiwara
Yang baru saja engkau tutup dengan hembusan nafasmu
Tersenyum dengan kerelaan membumbung bersanding rembulan
Matamu perlahan membening menatap lekat
Kubiarkan sorot mata bagai cahaya menelusup masuk kerelung hati
Menulis bait-bati sajak keabadian cinta didinding hati

Keikhlasan menggenggam erat tangan hati
Membiarkan bayang wajahmu membuyar menjadi cahaya
Mataku bicara dengan airmatanya melepas bagian jiwa
Bulir-bulir airmata mengkristal menjadi harapan dalam genggaman
Menyimpannya dalam kotak rahasia hati
Mengejawantahkan dalam cita jiwa mengemban amanat nurani

Engkau mengabadi dalam dinding hati menjadi prasasti cinta
Indah terpahat dari kuku-kuku jemari lentik bidadari
Tertulis keindahan yang tlah terjelang dan asa tersimpan
Menjadi kenangan dalam pelukan sukma bersama waktu
Engkau selalu ada dan kan hadir dalam wujud berbeda
Dalam wujud cahaya dihatiku mengemban amanat jiwamu
Pencarianku terhenti dilautan
tubuhku gemetar hatiku bergetar
engkaukah yang diatas mercusuar tengah lautan ?
melambaikan tangan menetaskan kekaguman
senyum mengembang bagai sinar rembulan
rambut terurai bak mayang putri impian
gumam nyanyian kerinduanmu dibawa ombak lautan
berdebur ringan lahirkan buih putih kasih sayang
di tuai pantai tempatku mematung kagum
engkaukah yang menebar pesona diladang hatiku ?
hingga teropong hati mengarah tepat ke wajahmu
yang ayu bak puteri salju
Pencarianku terhenti dipantai
mengumpulkan buih ombak yang kau cipta dari gumam nyanyianmu
kualirkan bersama darah ke jantung hatiku
menyemai pesona yang engkau taburkan diladang hatiku
berharap tunas-tunas kehidupan baru
Turunlah dari singgasanamu diatas mercusuar tengah lautan
sapalah wujudku dengan wujud sinarmu
hingga hati yang lama dijajah kabut kelam kembali cerah tak layu
bukanlah jiwamu ingin kuraih, hanya secercah cahya senyummu ingin ku rasa
kutahu, aku hanyalah nyiur dipantai
yang hanya mampu pandangi dan kagumi keberadaanmu
hanya bisa melambaikan tangan sepanjang waktu
tanpa bisa sentuh jiwamu yang jauh ditengah lautan

Wahai jiwa yang memberi pesona
kabarkan padaku tentang keindahan lautan
hingga aku tahu apa yang harus kunyanyikan untuk ombak yang kau utus
Wahai jiwa yang menanam kerinduan
kabarkan padaku tentang kedalaman lautan
yang berhias binar-binar gemintang dan keelokan wajah rembulan laut
hingga kerinduanku tentangmu mampu kutulis menjadi sajak dan lagu
yang kan kubacakan dengan hati saat siang dan
kunyanyikan saat jiwa memetik harpanya
untukmu,
karna pesonamulah ku merindu
SEANDAINYA ...

Seandainya hari itu tak datang merenggut senyum dan tawa
mungkin aku tak terkapar didasar jurang gelap tanpa celah sinar
tiada dapat tumbuh berkembang, tiada suara binatang
hanya kegelapan yang mendekap erat, erat
hingga bernafas adalah kesesakan mendarah
bicara adalah potongan-potongan nestapa

Seandainya angin tak membawa duka cinta
mungkin aku tak sekarat, tenggelam dalam lautan airmata
mencipta gelembung-gelembung nelangsa
meludahkan kepahitan dari dalam dada
mematahkan tulang-tulang dada, mengeluarkan hati yang berlumpur
kemudian melarungnya dalam lautan airmata, darah ...

Seandainya jalinan tak berakhir kala terik mentari bagai belati
mungkin senja ini adalah saat terindah
aku menjadi mentari mengecup mesra cakrawala jingga
Cinta kita seindah lembayung senja
harapan kita adalah embun pagi dan nyanyian riang hari
namun tak terjelang

Seandainya pagi tak mempertemukan kita dalam embun
mungkin ku tak pernah rasakan duka lara Cinta
kau baca tubuhku yang menggigil tanpa dingin
mencipta api dan menghangus abukan hati
mengeringkan jantung membekukan darah

Seandainya matamu tak membius pandanganku
senyum dan tawamu tak menghias hari-hariku
mungkin takkan dapat ku rasakan nikmat dan indahnya duka cinta
betapa perihnya luka mencipta berlembar-lembar kertas perawan
untukku menumpahkan darah dan airmata menjadi sajak sakit hati

Seandainya kau tak mengkhianati hati
mungkin kutakkan pernah tahu rasa empedu Cinta
terimakasihku untukmu wahai pemberi luka
masih saja engkau membayangi langkahku
hingga setiap apapun menjadi cermin bagiku
dan kulihat wajahmu dibelakangku
lekat memeluk tubuhku

masih saja kau tak melepasku
walau terang kutak mencintaimu
ku tak mau sakiti hatimu
dengan mencintaimu dengan cadarku

masih saja engkau tak merelakanku
pergi dari sisimu tuk jelang rinduku
pada bidadari yang menjemputku malam ini
aku mencintai bidadariku

masih saja engkau mengikutiku
walau engkau tahu hatiku bukan untukmu
bukan ku tak mau hadirmu
namun teras hatiku t'lah duduk seorang penawar rindu
engkau tahu itu bukan engkau

masih saja engkau merayu
walau ku t'lah palingkan mukaku
masih saja engkau tak melepaskanku
dari kejaran bayangmu
NELANGSA HATI

berjalan tertatih menyangga dada
telapak tangan menutup luka yang menganga
masih basah, masih perih, masih berdarah
jantung menggelantung mengintip lorong kematian
hati teriris-iris belati yang terselip
di tiap huruf dari kata-kata yang terucap

sayap hati patah lunglai
tak mampu mengepak dalam kedalaman telaga airmata
airmata menjadi darah
sedu sedan tangis menjadi nyanyian hati
menggetarkan jiwa gemetar

engkau menjadi siang yang memberi terang
namun engkau pula yang menjemput malam
memberikan kegelapan tanpa kesadaran
hingga pagi menjadi awal perjalanan kegelapan berikutnya
nyanyian yang menggemetarkan jiwa kembali memeras airmata

engkau datang memawa setangkup kepedihan
sungguh kuterima,...
engkau pergi meninggalkan kesadaran yang mengambang
langit biru belum juga bicara lewat putih awannya
pintu lumbung senyum dalam relung hati belum juga terbuka

mungkin pedang yang menembus tubuhku
rohnya masih bergentayangan dalam darahku
hingga menatap kepergianmu adalah kaca benggala keperihan
punggungmu menjadi cermin retak membiaskan luka
ku tersungkur tiap kali menatap

desah nafas hangat menambah keperihan
nyanyian sedu sedan mengeringkan telaga airmata
hingga menangis bagiku adalah bernafas
Bayanganku menjelma merah
menjadi warna matamu saat kau tersedak langkah
aku hadir dimatamu merasakan sesak
aku hadir saat ini kekasih
ku ingin ikut rasakan sesak menusuk ujung dadamu
kemudian aku menjelma menjadi tirta untukmu

Bayangku menjelma merah
menjadi warna darahmu saat tergores ranting kering sisi jalanmu
aku hadir kembali merasakan sakit goresan pada kulitmu
kulitmu yang tergores warnaku yang mengalir
aku hadir saat ini kekasih
ku ingin ikut rasakan perih luka menjadi rintihanmu
kemudian aku balut lukamu

Bayanganku menjelma keringat
menjadi penat di tubuhmu saat kau lelah berjalan
aku hadir pada pori-pori
kuingin ikut rasakan lelahmu
kemudian aku menjadi angin sejuk sepoi

Bayanganku menjelma dalam mimpimu
tuntaskan endapan rindumu berikan sejuta harapan tak semu
aku hadir ingin warnai asamu dengan tinta kasihku
melukis harimu menjadi keindahan
ku ingin selalu ada ditiap langkahmu

Bayanganku menyanyikan Lagu Cinta Aksara Hati
melemaskan rindumu yang menegang ditekan waktu
bayanganku memeluk jiwamu
lunturkan keraguan yang terbersit

Yakinlah kekasih,
tiada tempat seindah taman hatimu
tiada lagu seindah tawamu
tiada cahaya seindah binar matamu
tiada fajar seindah senyummu
Tiada keindahan tanpa cintamu
HUJAN

kita berlari bercanda dengan hujan
tawa meledak kala tanah menjebak
tangan terulur kugenggam erat
kembali berlari berlomba dengan hujan, tanpa kemenangan

wajah-wajah tanah jahil menggoda
berganti mengulurkan tangan
semakin erat genggaman setiapnya

bulir-bulir hujan meresap dingin
hingga kita nyalakan tungku perapian dilorong sukma
tetaplah dingin, tubuh masih diselimuti basah
hingga tubuh merapat tanpa kata, hanya kata mata

rumahmu tak jauh lagi dibalik bukit
namun kau habiskan waktu lebih buat hujan, karna
hanya hujan yang membuat kita sama-sama basah

dalam hujanlah kita bisa saling berbagi
dalam hujanlah kita tahu keberadaan, dan
dalam hujanlah kita mengerti
bahwa tiada dari kita bisa sendiri
ku hampiri engkau
yang terduduk ditaman hatiku dengan tangan menyangga dagu
dengan kulitku yang dilumuri embun ku biarkan tubuhku tanpa selembar benang
sekilas terlihat kau mengintip dari sudut matamu, hanya sekilas
engkau kembali menusuk rumput hijau dengan sinar matamu, redup
ku lihat rumput-rumput menengadah menatap ngangah
mungkin mengagumi sayu wajahmu yang ayu

Wajah sayu ayu lekat ke wajahku
mata indah tiada berkedip, menyelidik
aku biarkan mata hatimu masuk lewat lorong hitam mataku
agar engkau tahu, hatiku telanjang untukmu dan
ku biarkan, ku resapi kecup bibir matamu dikening hatiku
senyummu mulai beranjak bangkit
ku rasakan tangan berkulit bangsawan memagut
bibir pori-pori bungkam terpana
kulit seindah putri raja menyentuhnya dengan rasa percaya

daun-daun mengangguk
tanah tersenyum bijak
daun-daun yang rela menyerahkan embun paginya
untuk jiwaku yang tengkurap saat pagi
tanah yang ikhlas memberikan sapa sejuk embun yang meresapi
untuk jiwaku yang meminta pada fajar
Ketika Gelap menaungi malam
kusapa jendela kamar yang merindukan sentuhan tangan
matanya terbuka memancarkan kesepian
sisi-sisi wajahnya merona memantulkan cahya purnama
tubuhnya kugenggam dengan rasa memiliki

Ketika Rembulan malam menyapa keheningan
kebisuan mendekapku erat, erat
mata membiaskan pesona keindahan kedalam hati
hati yang terlentang ditengah padang rumput tanpa belukar
hanya kehijauan yang mulai menunduk
membisikkan ketakutan pada kemarau

Ketika binatang malam menyanyikan hymne keterasingan
jiwaku hanyut dan berdansa dengan kesepian
ranting dan daun melukis kegelapan bertinta cahaya purnama
menjadi background panggung teater ketepian
penari kesendirian indah meliuk-liuk bertelanjang dada
irama musik suara hati mengalun merambati tiang purnama
jiwaku menjadi penikmat alur cerita namun tubuhku menjadi penari kesendirian

Ketika sepoi angin malam mulai mengundang embun-embun
jiwaku melayang buyar dalam kegelapan mencari lumbung penyelesaian
Dan ketika pagi tiba kembali utuh memasuki tubuh
menggendong harapan menyatu dengan punggung berpegang erat pundak
Kututup kembali jendela malam, senyumku kemenangan ...
CURHAT

Sahabat datang dengan berlembar bincang
mantra-mantra Cinta ia racaukan
Meledak-ledak seperti Merapi saat menggendam
gendang telingaku ditabuhnya tanpa henti
hingga mataku tanpa kedip

Tunjukkan sebuah gambar ukuran sedang
hatiku tergoncang menatap poto perawan
anganku terseret kebelakang, aku tersentak
Perawan yang pernah mengerang telanjang, dalam pelukku
pernah menangis dan tertawa dalam dekapku

Kudatarkan permukaan wajahku
agar tak tahu anak krakatau didalam selat
menahan magma dalam dada

Sahabat tertawa riang hati terbaca senang
mengartikan tatapan sebagai persetujuan
Aku katakan;
.... perawan sebaik tatapan matanya
.... perawan sehangat senyumnya

Senyum mutiara dalam peluk kerang
hatiku mengepal, jiwaku bergetar
sahabat berlalu tinggalkan tumpukan geram tertahan
Tak mungkin bergeser dari dudukku
menatap sepasang mata binar
membelakangi raut wajah rindang peneduh hatiku, dulu

Bila seorang sahabat tertikam belati Cinta
jiwaku tergerak membenamkan belati Cinta dalam dadanya
agar sempurna kenikmatan perihnya
Walau kutahu, hatiku terlumuri darahnya
Darah menjadi airmata ...
datanglah kerumahku didalam embun, saat ini
jangan menunda hingga hari berganti
kalau memang dihatimu masih terpahat namaku
datanglah dengan berkendara pagi
karena hanya saat itulah pintu rumahku terbuka
pagi ini, untuk yang terakhir
malaikat kan datang disiang hari menagih janji; padaku
yang telah tersurat ditanganku
Jangan menunda hingga hari berganti
karena itu kan memberatkan langkahku menuju rumah baruku

datanglah sendiri,
tanpa kesedihan yang mendampingi
tanpa amarah yang meneriaki
tanpa dendam yang membujuki
datanglah hanya dengan menggandeng Cinta
karena mataku hanya mampu melihat Cinta; pada dirimu

Bila siang telah menjemput pagi
gumamkanlah doa dari atas awan
biar alam mengamini, biar bumi membuka hatinya untukku
hingga saat kumasuki rumah baruku
aku dapat tersenyum melambaikan tangan padamu
tanpa ragu

Kenanglah hari-hari bersama dalam rumah Cinta
dengan itu kau telah kirimkan secercah cahaya
dalam gelap rumah baruku
Hingga aku punya asa untuk bisa berjumpa; denganmu
dipintu terakhir
Duka cita ada dalam jiwa dan mengikuti kemanapun kau pergi
setiap waktu
Yang dapat kau lakukan adalah; selamilah danau duka cita
walau kau tuai buah kesedihan dan air mata
sedemikian tampankah wajah duka cita
hingga kau tak mampu melepaskan dari ikatan rasanya ?

Dan dalam hatimu engkau tahu
wajahnya tidak hanya tampan, tapi juga kadang mengerikan
seperti hantu gentayangan
wajahnya berganti seiring waktu yang kau kendarai
tahukah kamu, bahwa dibalik wajah-wajah duka cita itu
tersimpan makna-makna kehidupan ?
jiwa duka cita yang bersemayam dalam raga menjanjikan suatu kemenangan,
dan tahukah kamu bahwa kau akan mendapat harta boyongan tak ternilai ?; kepercayan diri dan kearifan
kau akan dapatkan bila engkau dapat mengalahkan perang dengan duka cita
Tahukah kamu bahwa duka cita adalah buah dari pikiran-pikiranmu ?
pikiran tentang masa lalu, masa yang telah terlewati
itulah salah satu hasil kerja pikiran sebagai kesempurnaan yang diberikan Illahi daripada makhluk lain

Jangan biarkan keakuan menyelimuti duka citamu
karena dia menciptakan wajah yang menyeramkan dan menakutkan
ialah yang membuahkan ketidak puasan akan hidup dan kehidupan
bahkan mampu menciptakan rasa ketidak puasan pada takdir Tuhan
Maka selamilah duka cita sedalam kau selami hatimu
karena sesunggunya ia akan dapat menciptakan wajah-wajah berseri dan bijak
jiwa adalah gudang misteri dan teka-teki
menyimpan segala rasa yang kadang menyentak
ada tangisan meraung-raung hanya karena sentilan
ada kebosanan yang membengkak tanpa tahu sebab
ada penyesalan yang terjadi karena pilihanmu sendiri
Tanpa disadari kita telah menyimpan suatu tempat yang asing
suatu tempat yang ada dalam diri kita
namun kita tak pernah tahu ada disebelah manakah jiwa itu
siapakah jiwa yang bersemayam dalam diri itu ?
mungkin sebenarnya itu adalah keaslian kita

Keaslian yang mengasingkan kita
yang mengalirkan ketakutan dan kekhawatiran
saat kita semakin jauh melangkah dalam kedalaman jiwa
semakin kita tak tahu arah dan tujuannya
begitu membingungkan
begitu asing bagi pikiran kita
namun begitu inginnya kita mengetahui keaslian itu
sangat ingin

saat airmata terperas membasuh wajah-wajah kita
ia hadir membawa pengertian dan rasa yang mendalam
setetes airmata dapat membersihkan hati dan jiwa
Ketika senyuman berkunjung
ia membawa bunga-bunga mekar yang semerbak mengharumkan jiwa
ia membawa tawa sebagai musik yang menggetarkan jiwa

Jangan tukarkan duka cita hati demi kebahagiaan
jangan pula tumpahkan air mata kesedihan untuk diganti dengan gelak tawa
aku ingin, sang jiwa tetaplah setetes air mata dan seulas senyuman.
seandainya boleh meminta
akan ku minta dirimu untuk kembali
karena kutahu
kau disana tertepi sepi
tanpa angan dan mimpi
hanya penantian panjang

seandainya bisa kulakukan
akan kugali liang yang telah memadat
menghimpit tubuhmu yang menyatu
kemudian ku nikahi dihadapan mentari pagi

seandainya bisa kusingkap tabir kegelapan
yang menyelimutimu dalam kedalaman
akan kubiaskan sinar mentari disiang hari
dan sinar rembulan dimalam hari
sayang,... keterjagaan merenggut mimpiku

andai itu bukan sekedar mimpi
taman bungaku pasti t'lah bersemi
Aku berjalan di taman hati seorang dara jelita
mengirup sejuk udara dan mencium wangi-wangi bunga
betapa kemurnian masih tertanam ditengah pancuran yang tak berhenti memancarkan air keremajaan yang menari-nari riang
bening laksana aliran sungai disurga firdaus

Tak henti kusemburkan puji pada Yang Maha Indah
yang telah meneteskan Keindahan pada taman hati seorang dara jelita

Kumbang-kumbang jantan terbang menyambangi kuncup-kuncup yang hampir mekar
hinggap ditangkainya dan memandangi penuh kekaguman
kemudian terbang dan menyebarkan kabar pada dunia muda
tentang sebuah taman yang penuh dengan kuncup-kuncup bunga nirwana

Aku tersenyum mengartikan kepakan-kepakan sayapnya
mendengarkan dengung lagu Cinta pada bunga

Ku baringkan tubuhku dihijau rumputnya
yang lembut bak selimut raja
membelai kulitku menebah lelahku
kemurnian ini memikatku

Andai musim tak berganti
kemurnian ini pastilah abadi

Wahai dara jelita
jagalah madu bungamu dari kumbang-kumbang pengganggu
yang hanya mau mengisap madumu dan membiarkan kelopakmu rontok ditelan debu musim panas
Tangkaplah kumbang perindu dengan kelopakmu
hingga saat musim berganti
akan membawamu bersamanya
resah jiwaku melemah
menanti bias yang kupancarkan bersama pagi
waktu tak mau menunggu langkah menuju senja kubahku
jiwaku lelah mencari tahu

Mungkinkah satu tanya kan terjawab
bersama senja datang menyambut sang bulan
atau hanya benang basah yang kau bentangkan
antara pagi dan petang
jiwaku duduk memandang bintang dari teras hati
tanpa rembulan

Mengapa arti itu kau sisipkan
pada tatap dan senyummu saat pagi
mengapa janji itu kau ucapkan
bersama terbitnya fajar

Mungkin cinta hanya sebatas angan
biar jiwaku duduk sendiri diteras hati
menanti rembulan
rembulan angan ...
hatiku bergetar saat sebuah nama terucapkan
oleh bibir-bibir keadaan yang berbaris didepanku
jiwaku melayang-layang pada musim semi kehidupanku
menggambar wajah bunga sakura yang wangi mempesona
dimana kelopaknya pernah menjebakku saat aku hinggap

jiwaku mendengar nyanyian kumbang-kumbang jantan memuja
bunga sakura yang tak pernah membuka penjara untukku
dan aku senang terpenjara dalam kelopaknya
dia kenakan mahkota dikepalaku dan memanggilku 'Pangeran Cinta'
gemanya masih sering mengetuk gendang telingaku

Dan hari ini kembali ke musim semi saat senja hidupku
aku telah renta dan pelupa
namun dirimu tetap segar mewangi untuk musim semi
juga untuk hati dan jiwaku ...
hatiku bergetar saat sebuah nama terucapkan
oleh bibir-bibir keadaan yang berbaris didepanku
jiwaku melayang-layang pada musim semi kehidupanku
menggambar wajah bunga sakura yang wangi mempesona
dimana kelopaknya pernah menjebakku saat aku hinggap

jiwaku mendengar nyanyian kumbang-kumbang jantan memuja
bunga sakura yang tak pernah membuka penjara untukku
dan aku senang terpenjara dalam kelopaknya
dia kenakan mahkota dikepalaku dan memanggilku 'Pangeran Cinta'
gemanya masih sering mengetuk gendang telingaku

Dan hari ini kembali ke musim semi saat senja hidupku
aku telah renta dan pelupa
namun dirimu tetap segar mewangi untuk musim semi
juga untuk hati dan jiwaku ...
aku adalah mata air tanpa aliran
ada ditengah lereng gunung keputusasaan
memandang rumput-rumput-rumput menguning
menatap pohon-pohon meranggas
daun-daun meregang nyawa

maafkan aku
bila aku tak mampu beri kehidupan padamu
bila bisa,
biar ku kuras air mataku
biar ku alirkan darahku
untuk kehidupanmu

biar aku saja yang hilang dari pandangan pendaki
yang mengagumi hijau sejuk lereng tak berapi

hiduplah dari airmata dan darahku
biar aku saja yang mati, jangan engkau ...
ku biarkan bayanganmu melintas didepanku
karena bibirku terkatup tak kuasa ucapkan sapa
hanya hatiku yang mengucapkan salam jumpa
dan sebait puisi terimakasih kembali terbentang didepan mataku

Kau berlalu dengan wajah tertunduk
mengairi jalan setapakmu dengan kepedihan yang memeras airmatamu,
kepedihan yang kudengar lewat angin timur menyapa pagiku
terlintas ingin untuk merengkuhmu kembali
namun luka yang kau beri belum juga pergi
ku biarkan kau mengayuh cintamu yang terhempas badai

Aku ingin,...
tapi luka hati masih perih terasa
hingga bila ku hampiri ku takut menambah perihnya

Tuesday, May 6, 2008

kau datang padaku membawa secangkir resah
yang pernah kau simpan saat kita dipersimpangan

sekian lama angin tak membawa aroma tubuhmu padaku
sejak kau putuskan tuk mendahului langkahku
bersama sosok bayangan tak kukenal
tanpa sepatah katapun tersembur dari mulutmu
aku kecewa

kini kau datang lagi padaku
berharap sandaran penatmu yang dulu
meminta selingkar pengikat gundahmu
agar layunya hatimu lepas dari cengkeraman waktu

Cinta itu masih ada
sayang itu masih ada untukmu
tapi tak mampu bergerak tuk sentuh hatimu
karena kekuatannya telah terkikis waktu
itu kehendakmu dulu, bukan mauku

kau pernah tertawa diatas keterpurukanku
aku tak menyimpan godam untukmu
kau pernah lukai hatiku dan
kau menyimpan tangis karena itu

maafkan aku ...
yang tak mampu lagi menerima uluran tanganmu
maafkan aku ...
yang tak ingin lagi mengasah anak panahku
Aku terpenjara rindu yang menggebu
pada seorang dara yang tinggal dilereng gunung kanvas
yang kuwarnai dengan tangan hatiku disuatu senja menghadap cakrawala
warna yang kupilih saat fajar mengintip dunia
warna yang kutitipi nyawa jiwaku

Kutatap lembut wajahnya yang ayu
dia tersenyum sambil berjalan dipematang sawahku
berkebaya batik berbaju ungu
rambutnya panjang terurai melambai ditiup angin senja
semakin kupandang semakin ku menerawang

Andai kutinggal dilereng gunung itu
mungkin dah kusunting tuk jadi permaisuriku
anganku pun kembali kekamarku
yang di dindingnya ku pajang gambarmu
hatiku bergetar saat sebuah nama terucapkan
oleh bibir-bibir keadaan yang berbaris didepanku
jiwaku melayang-layang pada musim semi kehidupanku
menggambar wajah bunga sakura yang wangi mempesona
dimana kelopaknya pernah menjebakku saat aku hinggap

jiwaku mendengar nyanyian kumbang-kumbang jantan memuja
bunga sakura yang tak pernah membuka penjara untukku
dan aku senang terpenjara dalam kelopaknya
dia kenakan mahkota dikepalaku dan memanggilku 'Pangeran Cinta'
gemanya masih sering mengetuk gendang telingaku

Dan hari ini kembali ke musim semi saat senja hidupku
aku telah renta dan pelupa
namun dirimu tetap segar mewangi untuk musim semi
juga untuk hati dan jiwaku
Datanglah malam ini telah kusajikan hidangan malam untukmu
bercahaya lilin-lilin terhitung umur cinta kita
datanglah walau hanya bayanganmu dalam mimpi
dayang-dayang kesepian telah menyiapkan menu cinta kita
yang dijembatani samudra dan hari

Sepasang cawan kerinduan belum juga terisi
hanya menjadi tempat istirahat kesendirian yang termangu dibibir cawan
kukenakan selampe keinginan kemesraan
pandangi hidangan malam tertutup ketidak berdayaan

kupandangi dinding yang bertulis janji-janji setia
serta kebahagiaan tak sempurna

kelembutan pelukan malam dalam keheningan
memberi nuansa dan warna kesepian
kesepian tanpa hadirnya rembulan
kesunyian tanpa suara jengkerik malam

Dan peraduanku beralas kesetiaan berselambu tanya
tanya tentang rembulan
Akankah ditengah penanggalan akan utuh bersinar tanpa tertutup awan
Hidup diatas Benua Cinta yang terus bertambah populasinya
berebut menyentuh pantainya yang damai
memanjat Pohon Kasih sayang memetik Buah-buahnya
Pahit dan Manis terjawab disana
genggamlah dahan yang kuat saat diatasnya
agar dapat ternikmati buahnya hingga Bijinya dapat kau tanam kembali diladang Cintamu
dan kau sirami dengan keringat dari jerih payahmu
turunlah dari pohon dengan cengkeraman perasaanmu yang lembut
agar telapak kakimu sempurna mencapai tanahnya yang biru
dan bacalah pahatan-pahatan kalimat tentang pengetahuan Cinta di tubuh Pohon Kasih sayang
agar kau tak tersesat jalan

Berjalanlah bertongkat akal dan kesadaran
agar hujan badai tak menggoyahkan ayun langkahmu
ambilah rempah-rempah Cinta di Kebun Asmara
agar kemesraan tak berlalu meninggalkanmu
Mampirlah ke kuil Dewa Cinta yang tak berhenti bersabda
agar ego dan tak setia tak tinggal di rumah hatimu

Naiklah Perahu kembangkan layar putih suci
agar samudra hidup dapat kau kangkangi
dendangkan lagu Cinta disetiap desah nafas
dan laut akan menyampaikan gemanya pada pantai yang selalu setia menunggu
Dan setubuhilah pantaimu hingga ujung waktu tak tertentu
dingin pagi ini tak lagi berbisik
tentang sejumput rindu di taman
dan dunia telah menjadi biasa
sebab separuh hatiku
telah tiada

mungkin aku harus beristirahat dulu
untuk seribu tahun
sampai saat kau kembali
mencari dan membangunkanku
dengan satu kecupan sunyi

dan sempurnakan waktu
dalam satu garis lukisan
buka dan rentangkan tangan menatap kedepan
sambut dan rasakan belaian angin sepoi yang membawa asa
dan biarkan asa itu tertanam didada
pupuklah asa hingga akarnya menguat menyentuh niat
sehingga niat akan mengirimkan pesan keseluruh syaraf keinginan
dan bentengilah keinginan dari serangan keputus asaan
biar mimpi yang mengganggu diujung malam terwujudkan

melangkahlah tanpa menengok kebelakang
biar aral yang melintang dapat engkau singkirkan
biar jalan yang tepat dapat engkau jelang
biarkan matamu menyapu kegelapan
dan akalmu menuntun kesadaran

ikutilah irama akal yang menabuh genderang
memanggil pengetahuan dan kesadaran
tetapkan hatimu akan satu tujuan dalam angan
kuatkan jiwamu merangkul duniamu
dan langkah kaki-kaki telanjang akan menginjak-nijak keputus asaan
maka akan kau dapati duniamu indah penuh cita dan cinta
bermakna ...
PERJALANAN CINTA

waktu melemparkanku jauh ke masa lalu
saat aku terduduk diatas kereta diatas jalan bertulis puisi perjalanan
aku tersadar saat terdengar suara memangil namaku dengan kelembutan
tak ada apapun saat mata terbuka
aku hanya menemukan sebuah pelataran batu bertulis syairku 6 tahun yang lalu
syair tentang kerelaan penyerahan cinta dengan segenap jiwa

kemudian aku kembali memejamkan mata
saat mata kembali terbuka kudapati hamparan menghijau yang telah menguning mengering
dan kutemukan sehelai kain putih bertuliskan syairku
syair tentang menyatunya tubuhku dan tubuhmu
aku menatap kosong dan terngiang desah tawamu

berjuta kata kukumpulkan tanpa atur
kumasukkan dalam jambangan dan kuseduh dengan airmataku
kuaduk dengan anak panah cintamu yang kau tancapkan ditanah merah bekas langkah kita
kuaduk tanpa lelah dan kucetak menjadi kerupuk-kerupuk kepiluan
kerupuk kepiluan yang tak pernah laku kujual
mengering disaat kemarau dan kembali basah saat penghujan
kerupuk kepiluan yang selalu basah pada akhirnya
tersiram hujan airmata yang tak ada hentinya
kenangan itu mengkambuhkan luka didada

dan disebuah palung cinta
kubenamkan jiwa mengembara dalam lautan cinta
berharap temukan dewi cinta didasar samudra
biar dia mengikatku dengan rumput laut cintanya
biar dia membuaiku dengan birunya
biar aku tak kembali lagi pada masa lalu pengkambuh luka
TULUS

Jiwamu tidaklah menakutkan, tapi mempesonakan
jiwaku ingin merangkul jiwamu yang menyilaukan
tapi mata ini tak kuasa menahan tajamnya cahyamu
jiwaku ingin merangkul jiwamu yang merentangkan tangan
tapi tangan ini tak kuasa merentang menerima sambutmu
kromosom-kromosom pergi meninggalkan tulang belulangku
hingga tanganku lunglai bak tak bertulang

cintaku tak sepicik gambaranmu
cintaku tulus tergali dari mata air cinta dijauh kaki gunung hatiku
dan aku selalu merasakan betapa cintaku adalah memberi tanpa pamrih pada jiwamu
aku mengabdi pada cintamu

jangan membenciku dengan inginmu
karena itu adalah siksaan terberat bagi jiwaku
aku hanya ingin kau tahu,
bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh jiwaku
bahwa aku mencintaimu dengan cintaku bukan dengan inginku
aku adalah semak-semak tumbuh dibelantara hatimu
maka biarkanlah aku menjadi titik-titik penyambung garis jalan setapak.
satukan seperti kilatan yang membelah langit
hingga kau bisa mengundang hujan yang ditunggu berjuta insan
setelah itu jadilah air yang melepaskan dahaga makhluk
juga melepaskan dahaga tanah yang meretak
hingga saat kau kembali padanya
tanah-tanah itu memelukmu dengan penuh kasih sayang

satukan seperti keris dan warangkanya
hingga kau takkan membuat telaga darah dari ujung lancipnya
setelah itu jadilah bunga setaman yang melelapkannya
hingga saat hantu-hantu datang membayangi
kemudian pergi setelah menghirup wangi aromanya

satukan seperti jiwa dan ragamu
hingga kau dapat tahu sedih atau senang dalam hatimu
lalu setelah itu jadilah dirimu
agar kau tahu bahwa waktu selalu menjemput dan melepas kepergianmu
berlaksa gerbang terlihat dan terlalui
ditiangnya terpahat jawab yang musti kau kaji
Wahai kekasihku,...
telah kuhirup nafas-nafas cinta yang melayang-layang di nirwana
hari ini aku akan hadir diteras hatimu
dan kulantunkan lagu yang kucipta dari cintamu
bersama kita lagukan dalam kebisuan
bersama kita dengarkan dalam ketulian

Wahai kekasihku,...
sajikan teh aroma melati yang kau petik dari kebun hatimu
seduhlah dengan air yang kau pompa dari jantungmu
dan kita nikmati rindu yang menggigil
yang kau buat semusim yang telah lalu

Wahai kekasihku,...
nyalakan tungku perapian didadaku
dengan bara yang menyala disudut hatimu
agar menghangatkan rindu yang hampir membeku
agar rindu itu mencair dan mengairi petak-petak hati kita
hatiku bergoncang saat kau ucapkan janji
tentang satu hari yang belum terlangkahi
kau layangkan aku seperti kapas mengikuti jejak kabut
saat hatiku merasakan tiupan hangatmu
namun ragu mendekapku erat seperti malam menina bobokan
raguku laksana pedang ditangan ksatria dimedan perang

keyakinanku berteriak berontak dalam ruang raguku
namun pasukan akalku mengepung dari segala penjuru
aku pasung keyakinan tentangmu
agar tak mendobrak pintu hatiku
agar tak meneriaki aku dengan caci maki

aku tak mengerti,...
mengapa kau aspal jalanmu dengan bebatuan tajam
hingga membuat kakiku selalu terluka saat mengikutimu
mengapa kau selimuti dirimu dengan jubah kebohongan
hingga kekecewaan seperti hujan yang membasahiku

namun satu yang aku suka darimu
bahwa kau telah beri arti bagiku tentang kebenaran semu
sesaat aku tertegun dipersimpangan
dimana aku harus berjalan dan meninggalkan jejak ?
sesaat yang penuh dengan pertentangan
sesaat yang penuh dengan ketidakpuasan

aku menoleh kebelakang
dimana kulihat jalan seperti peta
terlalu banyak, bersambung-sambung, berwarna beda,
dan aku harus membandingkan gambar dengan nyata

sesaat aku memanggil saraf-saraf otakku
untuk menggambarkan kejadian masa lalu

hening,...
dan kubiarkan ahli-ahli otakku menyingkap keheningan masa lalu
tapi tak satupun mampu menemukan jejakku
jejak-jejak kaki yang telah mengering termakan waktu
ah,.. begitu rakus sang waktu hingga dia merampas masa laluku
yang tersisa hanyalah kedunguan tentang jalanku

dalam sesaat,...
aku temukan jeruji-jeruji yang pernah mengekangku
dalam penjara yang penuh aliran darah dan rongga-rongga basah
terpaksa harus kupotong pipa-pipa darah dengan sebilah akal biar aku tenggelam oleh darah
dan keluar dari liang penjara bawah tanah yang penuh dengan aroma kemaksiatan

sesaat tersadar,...
kakiku telah memilih tanah untuk dipijaknya
tumitku memijit bumi untuk tinggalkan jejaknya
dan mataku memancarkan cahaya spiral untuk memotret masa depan
mata hati terpejam saat desah-desah hangat menyapa
bayanganmu datang bersandar dipelukan
wajah ayu keibuan kupandang dengan mata hatiku yang sayu
endapan kerinduan terkikis desah-desah wangimu
yang membanjiri tiap relung hatiku

erat kau peluk tanpa rasa kasat
namun hatiku menderu menindih hatimu
dan kau biarkan jemari lembut hatiku menjelajahi hatimu
kemudian kita sampai di puncak alphen yang menyejukkan
dan disana kau buahi rindu yang menggebu
tanpa kata ...

Dan bila desahmu kembali menyatu dalam nafasku
hati ini kembali syahdu mengalunkan melodi simponi
dan bila isak tangis berairmatakan bening bahagia
hati ini kembali memeluk jati hatimu
membelai buai agar kau tertidur pulas dalam sandaran

dan bila pintu hari kembali dibuka
kita terjaga bersama dan isi makna hari dengan arti
dan bila siang kembali terik
kutelungkupkan tubuhku melindungmu
agar kesejukan ada padamu
dan meresap lewat pori tubuhku

kekasih ...
aku ingin selalu ada saat kau terjaga
kita keruk inti bumi dengan rindu yang meruncing
dan kita belah angkasa dengan cinta membilah

ingin membingkai prasasti itu
tapi akan terasa indah bila siang dan malam saja yang membingkainya
goresan-goresan emosional menguat menandas
cermin jiwa yang gundah memaksa

awan-awan itu telah menyampaikan padaku
tentang rasa perih yang mengalir lewat pori-pori tubuhmu
dan kusampaikan damaiku lewat kabut putih tipis
yang akan menyelimuti tubuhmu
dan merasuk lewat setiap pori-pori tubuhmu pula

maka simpanlah apa yang telah disampaikan
lewat langit biru menghantar
duka yang menutup kedok suka
mengalirkan air mata dalam gelak tawa
dalamkan duka hingga keujung rongga
hingga nanti suka itu bertambah jatahnya

denting dawai-dawai gitar mengiris membelah hatiku
merdu mendayu-dayu rontokkan saraf-sarafku
kapiler-kapiler darah tersumbat tak membantah
irisan dawai-dawai yang kupetik sendiri

kenapa aku bersedih
sementara sedih itulah yang memberiku kesenangan
kenapa aku menangis
sementara tangis itu yang memberiku kebahagiaan

mana yang lebih menghujam ?
kesedihankah ?
atau kebahagiaankah ?

yang kutahu aku berada ditengahnya, berjalan
saat aku berpelukan kesenangan ada dihatiku
sementara kesedihan menunggu ditempat tidurku

kesenangan dan kesedihan yang selalu timbul tenggelam
seperti pulau kecil ditengah lautan
saat pasang tenggelam
saat surut menjulang
Suratku

Lama aku tak berbicara padamu
Berbicara dengan lidah tak bergerak
Pada malam-malam tak berangin
Tapi siangpun tak apalah

Lama aku tak menyambut hadirmu
Pada pesta sorak sorai semesta
Di tengah padang perburuan
Di ruang kosong sendirian

Apa kabar kamu dan singgasanamu
Kurindu angin semilir pohon-pohon
Matahari yang ramah memeluk
Sungaimu mengalir susu

Tahukah bila aku di sini meradang
Speciesku bermutasi perlahan
Gen logam meracuni ikatan protein
Menjadikan kami mahluk berotak chip

Tahukah bila di sini siklus menghilang
Mata rantai mati diterjang iklan
Ambisi bertumpuk tumpuk meninggi
Sekotak otak kosong yang rapuh

Lama aku tak bersurat padamu
Karena lembar daun tlah habis
Penaku telah membatu dan
Terlalu jenuh program dijejalkan

Semoga engkau bisa mengerti
Tanahku berubah pasir hisap
Mata air mengalir nanah
Bila aku siap meregang

Salamku pada halilintarmu
Karena lama aku tak mendengarnya
Dan bila aku mulai membusuk
Maukah kau kirim cahaya putihmu

Sekarang aku ingin tidur
Semoga merpatiku sampai di tanganmu ...
Masih Ku coba 'tuk Bersamamu

Masih bersamamu,
Bagai terpanggang dalam dingin sejuk
Bersanding namun tak dapat meraih jemarimu

Masih bersamamu,
Terasa seperti ditengah gurun gobi sendiri
Tak pernah kau puaskan dahagaku
Walau hanya sebulir bening

Sampai saat inipun masih bersamamu,
Enam helai waktu kaku
Semakin tak dapat kau raih maksudku
ada seribu jalan, tapi kau tak dapat mengerti

Masih ku coba 'tuk bersamamu,
Akupun tak tahu bisakah bertahan
Dalam cecaran egomu, yang tak pernah peduli dengan inginku
Haruskah ku s’lalu mengalah ? Sampai kapan ?

Masih mengharapmu,
Mengerti hati dan alurku
Yang tak pernah kau gapai (sampai saat ini)
Tak kurang dan tak lebih,..

Mengertilah,…
Bahwa cinta bukan untuk dinikmati sendiri,…
KENANGAN MASA LALU

Pagi ini,
Sebuah suara dari masa lalu menyapa riang
Bertanya-tanya, merayu manis
Melambungkan sejenak hati yang tengah gulana..
Menghembuskan angin sejuk walau sekejap..

Ah, suara dari masa lalu itu..
Andai saja aku masih miliknya
Mungkin saat ini aku masih bisa mencecap sedikit bahagia
Mungkin saat ini masih tersisa binar di mataku..

Tapi cerita lalu memang hanya sedap untuk dikenang
Sebab jika dibiarkan bersemi lagi,
hanya akan memberi tahta pada airmata.

Aku Ingin Kau Ada

Kenapa kamu tak beri obat itu padaku ?
Atau paling tidak hembusan desahanmu kau titip pada angin malam
Yang sepoinya bisa membelaiku di ujung malam
Yang setiap itu ku tulis puisi kerinduan untukmu

Kamu tahu,…
setiap hari kukejar bayanganmu
namun tak dapat kuraih maksudmu
Aku hanya bisa melihat samarmu membelakangiku
Ah,… aku susah tersenyum

Kamu tahu,…
Endapan diujung rongga ini semakin menebal
Kamu tahu,…
Irama lagumu selalu terdengar
Kadang melengking tinggi, kadang mendesah lemah

Dan aku tak ingin tak mendengar alunan lagu itu,
Lagu yang bernada biru bukan sendu atau nelangsa
Yang setiap saat selalu terdengar,
Walau dalam tidur sekalipun

Nadamu selalu terngiang disetiap langkahku
Yang juga tak kuketahui dimana berhentinya
Dalam hutan yang tak lebat ini aku sendiri,
Benar-benar sendiri
Tapi tak kurasakan sendiri itu, toh aku sudah terbiasa sendiri

Aku benar-benar tak perduli dengan kerasnya batu
Yang saling menonjol angkuh
Seolah ingin menunjukkan kecongkakannya
Yang aku pedulikan hanya lagu itu,
Yang membawaku terus berjalan
Menyeberangi sungai, hutan, lembah, dan celah sempit yang ada ditempat ini
Dan juga yang ada dalam otakku

Nadamu yang membawaku menyeberang masa lalu melintasi ruang dan waktu
Nadamu semakin mendekat, menggelitik usik
Dalam telinga, dalam hati, dalam labirin otak, dalam plasma darah,
Dalam semuanya,…

Sesungguhnya aku hanya ingin kau ada
Aku ingin saat bercermin kulihat wajahmu disampingku
Dan lebih ingin lagi,
Aku bisa merasakan hangatmu saat ini,
Rasanya rindu ini sudah begitu menohokku
Mendamparkanku dipulau tak terpeta, tak terbayang.
Menatap matamu adalah,
Bagai terbiar dalam pelangi ku terpaku
Menunggu saat hadirmu dalam biru

Menatap matamu adalah,
Bagai berdiang diperapian saat hujan dan dingin
Apimu hangatkan tiap relung sukmaku

Menatap matamu adalah,
Bagai tersesat dibelantara asa
Yang membuatku terus berjalan dan lupa arah pulang

Menatap matamu adalah,
Bagai terkunci dalam ruang rindu yang gelap
Membuatku menggapai-gapai damba sentuhmu

Menatap matamu adalah,
Suatu kesadaran
Kesadaran bahwa kita t’lah berpisah
Namun telah kau beri suatu arti bagiku
bagi hatiku ....
dalam diammu ku termenung
adakah kau berpikir yang sama dengan diriku ?
ketika kita bicara kehidupan akan datang
ku tatap matamu ...
kulihat binar asa menggebu seperti pelita tak pernah padam

dalam riangmu ku tersenyum
adakah asa dalam hatimu sama dengan diriku ?
ketika kita bicara tentang rumah masa depan
ku tatap wajahmu ...
ku lihat sinar kasih dan sayang seperti bulan diujung cakrawala

adalah dirimu kecintaanku
adalah dirimu kesayanganku
dalam damba hati dan langkah
kau selalu bersamaku
disetiap desah napas malammu
disetiap desah rindu cintamu
aku disini
menatapmu dalam semu dan nyata
selalu
dalam kecintaanku
p a d a m u ...

Monday, May 5, 2008

CINTA TANPA SYARAT

aku pernah sangat mencinta
begitu pekat hingga tak dapat kulihat memarku
begitu tebal hingga tak dapat kurasa lukaku
cinta yang tak kenal hujan atau terik
cinta yang tak hirau lelap atau penat
cintaku sungguh tak bersyarat...

namun luput dari pikirku
cinta harus pula berkait pada cinta
bukan pada gelombang,
yang terus memukul dinding jiwaku dengan amarah
bukan pada angin,
yang terus memutar arah hatiku kemanapun ia mau bertiup
bukan pada langit,
yang hanya memandangku dari jauh tanpa pernah bisa kuraih

telah datang pada suatu hari
dimana aku lalu sadari
cintaku mengerang karena luka
dan mengering karena kecewa
dan mati ...
bahkan aku sudah tak bisa menangis lagi


saat Cinta datang dengan hormat mengetuk pintu hati
maka bukalah pintu hati lebar-lebar
biarkan Cinta membuat jendela-jendela
agar sepoi membelai buai menyejukkan tiap sudut relung hati

saat Cinta datang mencongkel jendela tanpa setahu penjaga hati
jangan usik dia, karena dia akan mengganti jendela itu
dengan jendela baru yang lebih indah mempesonakan
rasakan saja hadirnya agar dia bebas mengukir dinding-dinding hati

Saat Cinta merobohkan saka hatimu, juga biarkan
karena dia akan kembali datang dan membangunkan istana hati
dengan saka dari sarinya

Namun saat radar-radar hatimu tak lagi merasakan hadirnya
jangan biarkan,...
Usirlah ego yang telah membelenggu rasa dibalik jeruji denda
dan ceburkanlah diri dalam telaga keheningan
maka sesungguhnya kamu akan dapatkan merasakan hadirnya Cinta kembali dengan hati berpermadani


Aku sedang termangu dibuai kenangan akan dirimu
Saat senja samar, bersimbah sinar mentari sepoi
Ada daun yang jatuh melayang ke pesisir hati
Dan angin senja menghela desah gundah

Lalu ditengah lamunku yang sendiri
Bayangmu yang tembus pandang akan merangkulku erat
Kecupmu semu dingin menyapu dahi..
Tapi apatah artinya sebentuk bayang?
Tak akan hangat ragaku beku
Tak akan lerai rinduku ragu

Kekasihku , buah rinduku
Lingkar hari berulang sekian kali tanpa dirimu
Waktu melintas gegas tanpa sentuhmu
Hatiku meranggas kini, dahaga akan hadirmu

"Aku akan segera pulang"katamu disuatu pagi bermantel embun abu-abu
Ketika aku tengah merajut impian menganyam rindu
Mengidam pandang matamu yang selalu menghangatkan subuh beku seperti kala itu..
Tapi kini, puluhan kali purnama menyapa saat aku duduk sendiri
Dipuncak rindu, tanpamu menatap malam jelaga..
Belahan jiwa, tepati janjimu dan lekaslah kembali ke pelukku kekal...


engkau hadir saat cinta tertimpa kemarau
engkau teteskan butir-butir melepas kering ladang cinta
engkau hadir saat musim perpisahan berlalu
dan aku terjebak di gunung salju musim kepedihan
aku menggigil tanpa pelapis kulit
sel-sel kulit mengernyit menjerit kemudian melepaskan diri dari induknya, mereka mati oleh musim

engkau nyanyikan lagu bijak dan kesadaran
merdunya menggema direlung sukma
menghanyutkan kepiluan yang melanda
kemudian kau menari tarian pembesar jiwa
menarik tanganku ikuti iramanya
jiwaku meliuk tersenyum tanpa paksa

engkau semai kembali tunas-tunas asa di ladang jiwa
dengan pupuk perhatian kelembutan
engkau sirami dengan air dari mata air kasih sayang
dan engkau bangunkan lumbung rindu disudut kalbu
dari dahan yang kau bubut dengan rasa syahdu

musim panen rindu telah tiba
dan engkau buka lumbung-lumbung rindu
kemudian kita nikmati bulir-bulirnya
diujung pelangi bersama bidadari saksi keabadian
dan engkaupun kembali bersama mereka
melewati tangga-tangga pelangi tinggalkan jiwa sepi
terjebak angan.


IKUTLAH DENGANKU ...

Ikutlah denganku,
menyusuri padang rumput luas terbentang
Hijau segara, berselimutkan kuning bunga Matahari
Kita berlari bersama kearah kaki pelangi diujung sana

Ikutlah denganku,
terbang dengan sayap peri yang kupinjam semalam
dari peri kecil binar mata yang selalu berkunjung saat kau ada di sisi
Kita akan kunjungi negeri legenda, terbang kepuncak menara pualam
Lalu akan kita gelitiki rembulan sampai ia menggantung lemas pucat pasi

Ikutlah denganku,
akan kita datangi sang pencinta
agar berbagi kisah asmara
tentang kisah kasih dari seluruh penjuru semesta

Ikutlah denganku,
Akan kunyanyikan lagu cinta gubahanku
Tak seberapa indah,
dan senandungku pun tidaklah seberapa merdu
Tapi sudilah menyimak,
Ruahan hati tentangmu ini,
tentang kita,
tentang betapa aku mencintaimu...


Kulewati berjuta malam merajut rindu
Berjuta hari memintal mimpi, menjalin untaian bulir putih mutiara hasrat
Hampir selesai karyaku ini,
Sutra Dewangga yang halus seperti desahan angin sore dipuncak bukit
Berkilau seperti lukisan subuh yang basah di ufuk timur
Indah bercorak cinta kita yang penuh warna…

Akan kuberikan padamu malam ini saat kita bertemu..
Agar bisa kita pakai bersama
Untuk menghangatkan raga di malam berbintik bintang
Saat kita berdua melebur saling melipur damba
Menyerah pada deru cinta menggebu
Menyeka peluh wangi kita berdua yang menganak sungai

Dan kelak,
Saat senja kehidupan mulai turun
Saat segala materi sudah lapuk dan usang,
Cinta kita akan tetap muda dan sintal
Terbungkus oleh sutra indah ini

Lalu kita akan membukanya bersama-sama
Bermandikan cahayanya yang hangat
Mengingatkan kita
Bahwa cinta kita memang tidak pernah pudar …

Di malam seperti ini,
Sedang apa gerangan engkau, kekasihku?
Apakah sepertiku, memilin rindu dibibir jendela?
Menayang angan, mencoba menjamah ujung rambutmu dari balik rembulan?

Adakah kau pun memandang keluar jendela,
Mencoba mencari pantulan bayangku di permukaan purnama?
Adakah angin malam di bumi mu mampu mendesahkan nyanyi rindu seperti disini?

Kekasihku,
saat kau memejam mata menuju tidur nanti,
Lihatlah disudut kiri kelopak matamu,
Aku akan ada disana,
duduk ditepi mimpi, untukmu...


Ada penjara dihatiku
Berdebu lapuk lantaran kosong berlaksa windu
Hanya berhunikan desahan bayu
Rindu akan hadirnya seorang tawanan kalbu

Letaknya tepat ditengah hatiku
Diseberang sungai abu-abu yang mengalir menuju jiwa..
Tempat dimasa lalu aku sering datang,
tegak ditepinya menampi mimpi...

Kini,
Vonis sudah dijatuhkan,
kau sudah jadi tersangka utama
Atas tuduhan pencurian cintaku yang semata wayang..

Kunci-kunci sudah diganti
Engsel pintu besi sudah diminyaki
Lubang-lubang sudah ditutup rapat
Kau tidak akan mampu meloloskan diri, kekasih...
Tak akan pernah kubiarkan...
Sampai batas waktu yang kita tak pernah tahu...

Aku cinta kamu ...


Aku disini, kekasihku..
Sedang bertengger di ujung malam
Sambil menghitung harum tubuhmu yang tercecer didasar sukmaku
membalas senyum yang kau lontarkan untukku
Dari balik jeruji purnama
Ya, aku juga mencintaimu...

Aku masih disini, kekasihku...
Masih saja jatuh hati setiap kali senyummu menerpa wajahku
Setiap kali derai tawamu mengecup keningku
Betapa aku mencintaimu...

Bayangmu masih ada disini kekasihku
Dan aku tak pernah gagal mencintaimu ...

Satu jiwa sepi melangkah
Menyibak semesta, merambah mayapada
Mencari mimpi, meraba asa
Yang dahulu pernah teramat dekat

Satu pasang mata menatap nanar
Mencoba terbiasa dengan kelam abadi
Menggelapi dunia yang dahulu indah dan warni

Satu kepal hati dingin tersisa
Dari degup hangat dahulu kala
Yang dulu senantiasa menebar wangi untuk seluruh dunia

Selaksa kecewa kini merebak
Dari cinta tak berbalas
Dari kasih yang tercampak

Satu sukma letih dan gontai
Sebab tak jua menemukan jawaban
tentang bagaimana mengusir cinta yang terus bertahta ...

Satu butir hari bergulir lagi
Semakin menjauh dari awal hari kita berpisah
Meregang rindu
Menuang asa

Satu lingkar purnama berlalu lagi
Meningkahi tenggelamnya mentari
Menyanyikan elegi
Mencoba mengobati lara yang meringis menahan perih

Satu serpihan kecil hati berjingkat pergi
Membawa luka dan kecewa
Mencoba melupakan segala derita

Semua sudah pergi,
Tapi cinta padamu selalu tinggal
Untuk menyiksaku lebih lama lagi ...

Pagi ini,
Kubuka jendela kamarku yang sesak oleh aroma mimpi tentangmu tadi malam
Mimpi yang membuatku bangun dengan hati berdarah
Melumuri ranjangku, meleleh sampai ke lantai

Ternyata rindu itu merah seperti darah
Atau kalau kau ada didekatku,
kadang-kadang cerah seperti mawar..

Cerah seperti hari ini
Menyebalkan sekali!!!
Kenapa segala sesuatu musti cerah
sementara hatiku begitu suram?

Aku masih rindu kamu
Padahal kita sudah bertemu
lewat sekelebat mimpiku tadi malam..


AKU MASIH CINTA

Kasihku..
Tahukah kamu?
Betapa jauh jarak ku rengkuh
Betapa tinggi ku melayang
Betapa dalam ku tenggelam
Betapa penat ku berpikir
Ronamu kerap singgah dimataku

Cintaku..
Tahukah kamu?..
Betapa pekat rindu ku simpan
Betapa keras ku mencoba
Betapa deras air mata ku lawan
Betapa lemah hatiku menahan
Sapamu masih singgah ditelingaku

Waktu yang tak jua berteman..
RASA yang tak jua menyapa..
Karena lenyap bersama dirimu..

Damai yang tak jua bertamu..
CINTA yang tak juga berlabuh..
Karena terdekap bersama hilangmu..

Simbahan Kasih dulu bersamamu.. kini kering tak bersisa
Ukiran Rindu dulu denganmu.. kini hilang tak bertanda
Perjalanan Cinta dulu disisimu.. kini lepas tersapu


Rinduku..
Tahukah kamu?..
Betapa kuat sauh ku kayuh
Betapa deras arus ku tempuh
Dirimu tak terengkuh...

Kasihku..
Lengkapi ragaku
Tentramkan sukmamu
Aku ..
Masih ..
Cinta ..
Kamu ..

RINDU

Aksara hati bergaung di wahana sukma
Menjeritkan ocehan lantang semata..
Meneriakkan kata-kata yang sama
tentang rindu dendam tak berperi..

Cepatlah pulang wahai insan belahan raga..
Agar dapat kunikmati lagi curian pandangku padamu..
Agar dapat kunikmati lagi keberadaanmu didekatku,
walaupun tak akan ada satupun kata darimu untukku

Cepatlah pulang wahai insan belahan jiwa
Sudah habis dinding hatiku terkikis menahan rindu
Sebab satu hari tanpamu
Adalah deraan perih seribu belati ...


AKSARA HATI

Malam sudah beranjak renta sejak tadi
Tertatih lumpuh sebagai hatiku yang meraba mencari cintamu
Yang masih saja mendamba hadir sekedar bayangmu
Yang masih terbakar oleh aroma nafas tubuhmu

Kekasihku, dimana engkau?
Tiga malam lalu masih kulihat kau disudut mataku
Masih kudengar parau batukmu
Masih kuingat setiap nada yang kau senandungkan

Kekasihku, tahukah engkau?
Cintaku padamu memang bengal
Sudah kucoba membunuh ia dengan pedang kejammu
Dengan beku sikapmu
Dengan racun ingkarmu
Dengan belati dusta mu
Tapi ia tetap saja hidup dan tak mau mati
merambah lagi,
Merajai hatiku yang capai..

Kekasihku, tahukah engkau?
Aku sudah lelah menggempur cintaku padamu
Aku sudah lelah bertarung dengannya dimedan laga bertabur puspa

Kekasihku,
Sepertinya aku sudah siap untuk menancapkan tombakku di bumi,
lalu berlutut takluk dibawah panji pesonamu
Mensahayakan jiwa raga ku bagi serpihan kecil remah cintamu..

Kekasihku,
Lihatlah aku sejenak saja
Maukah kau mendekap ragaku ini yang sekarat bersimbah cinta?
Tak dapatkah kau melihatku?
Walaupun dengan cinta sebanyak ini?
Yang meleleh ruah menggenang disudut kakiku?

Malam makin tua, kekasihku
Tapi aku tak mau lelap memejam mata
Karena kau pasti ada disana,
disetiap helai mimpiku
disetiap lingkar bola mataku
Dan saat itu aku benci akan diriku
Yang kemudian selalu tersenyum
Melupakan segala derita dan getir
Membentangkan kedua belah tanganku
Demi memeluk bayangmu yang semu...

Aku (masih saja) mencintaimu...


SISA RINDU

Senja sudah melarut ke peraduannya
Dan hingga saat itu
Kau belum juga tiba.

Hatiku sesak
Berat sekali bebanku tuk bernafas.
Kuperas otakku agar kau tak singgah ke sana
Walau berat 'ku coba
Dengan segala daya yang ku punya
Aku tetap gagal.

Apa kabarmu hari ini?
Semoga indah senantiasa.
Disini ku tetap menanti
Merepih sisa rinduku
Di tiap menit dan hitungan detikku
Hingga saat kepulanganmu.

Jika kau merinduku
Datanglah ke pelukku
Kan kubuai kau penuh kasih
Hingga kita melebur di dalamnya.


Saturday, April 12, 2008

Makin Jatuh Cinta

Aku makin sayang kepadamu
Cintaku padamu menjulang ke nirwana
Sementara tanganku selalu terbuka
Siap mendekap dan memelukmu
Pelukan yang terhangat.

Sungguh, aku makin sayang
Biarlah aku simpan cintaku buatmu.
Dalam nafasku yang hangat mengaliri
Setiap jengkal tubuhku
Karena sayangku padamu kan abadi
Dan akan bertahan sampai nanti.

Kasih,
Aku makin sayang kepadamu.
Andai kendi itu dapat ku isi
Dengan air telaga kehidupan yang tak pernah padam
Dimana airnya dapat ku reguk dan ku nikmati
Hingga lekuk lambungku penuh terisi.

Kan kupanjat tiang langit
Dengan titian pelangi warna-warni
Ku pasang bulan tiruan sebagai pengganti
Hingga para bintang dapat berhenti tawanya
Dan kembali melaksanakan tugasnya
Menghiasi malam.

ada telaga bening dalam dirimu
yang setiap detik airnya memadu
sebuah hasrat yang kau sembulkan
lewat kapiler-kapiler darahmu
lewat saraf-saraf tubuhmu
lewat alur pikiranmu
bahkan lewat setiap rongga yang tak terkata

maka dunia akan berhenti berputar
menunduk dan turut katamu
bulan bintang menyanjungmu
mentaripun tersenyum puas
memandangmu,...

tapi jangan lupa
bahwa ada sebatang pohon yang harus kau ambil buahnya
dan kemudian kau tebang dengan lidahmu
Rinduku Adalah Sebuah Danau

Rinduku padamu adalah sebuah danau.
Aku ingin kamu berenang di dalamnya.
Akan kubasuh tubuh indahmu hingga bersih.
Dengan air sebening permata.
Perhiasan Nirvana.

Lepaskan semua kain satin itu, bidadari.
Poloskan lekuk tubuhmu.
Karena kamu tercipta dengan keindahan.
Sepuhan khayangan.
Dan biarkan air danau memelukmu.
Seperti satu haus yang takkan terpuaskan.
Infinity...
Malam ini masih muda
Bulan pun belum tampak sinarnya
Angin dingin bertiup menyelimuti
Dan aku masih disini
Hitungan kilometer berjarak
Dari tempatmu berada.

Angin itu menerbangkan sayapku
Dengan buih-buih kecil disekelilingnya
Meniupkan udara
Membuatku terangkat
Membawaku terbang
Entah kemana tak bertujuan

Kupejamkan mataku
Kurasakan aliran udara di atasku
Kuhirup dan kubiarkan ia hidup
Mengaliri dinding-dinding kalbuku

Saat itu aku berharap
Sayap dan udara itu
Membawaku menuju kepadamu.
CINTAKU

cintaku sederhana,
tanpa pernah mengenal lelah,
seperti matahari yang selalu memberi,
hangat sinarnya setiap hari tanpa meminta.

duka itu dulu begitu dalam,
seakan mejadi bayang diri,
menjadi nafas yang selalu besertaku.
Sampai hari itu tiba,
menyerahkan cinta itu sepenuhnya,
menjadi lebur dengan cinta itu sendiri.

hingga kenangan dan masa lalu menjadi cermin,
tersenyum ketika perasaan itu tiba2 menyergapku,
dulu melelehkan beningnya air mata,
kini membangun diri untuk memberi.

seperti mawar di taman bunga,
menebarkan harum dan indah warnanya,
tanpa pernah memaksa orang untuk menikmatinya.

semakin lama semakin terhanyut
tenggelam dalam perasaan tak terkatakan
hingga terlihat dasar dari segala dasar
satu buah cinta yang orang lain tak bisa rasakan
Hidupku ...

Hidup adalah pengharapan
Seperti panas mengharap hujan
Dan putik pada serbuk sari
untuk membentuk buahnya

Hidup adalah pengharapan
Seperti mentari pada rembulan
Kala sinarnya yang tajam
Tak mampu lagi menyejukkan alam

Hidup adalah pengharapan
Seperti aku selalu padamu
Yang selalu bersinar menerangimu
Memancarkan cahaya lembut temaram
Membuatmu damai dan selalu tenang

Hidup adalah pengharapan
Seperti jiwamu pada sukmaku
Yang kusemaikan tiap butir benihnya
Sampai bertaman indah tak terkira

Hidup adalah pengharapan
Hingga lautan tak mencapai daratan
Hingga panas tak lagi berhujan
Hingga bumi tak lagi bertuan

Hidup adalah pengharapan
Dan hidupku ada padamu.
Tempat Ku Berada


Semalam aku kembali
Menyusuri dunia yang mulai asing bagiku
Dunia yang dulu pernah kukenal
Dan membesarkanku dengan kasih sayang

Semalam aku kembali
Dalam riuhnya canda tawa
Dan alunan suara bak buluh perindu
Dari duniaku, para Siren

Ku coba alunkan satu dua bait kata
Dari mulut mungilku yang lama tak tersentuh
Segera cekat itu kurasakan
Dan wajahku dingin oleh keringat
Lidahku yang dulu lincah
Kini tumpul dari nada

Sungguh, aku tak merasakan apa-apa
Walau kulihat para Siren begitu menikmati
Alunan suaraku yang mereka dengar
Apa telingaku mulai tuli
Hingga ku tak dapat mendengar suaraku sendiri?

Aku hanya dapat merasakan
Gelegar kilat yang ku kirimkan
Dan gemuruh petir yang ku lebatkan
Ke lembah tandusmu, sayang
Sebagai ungkapan kesedihan
Dan perihnya jiwaku

Sungguh aku tak dapat menikmati
Apa yang seharusnya membuatku hidup kembali
Di duniaku, para Siren
Namun bukan itu yang jiwaku butuhkan
Melainkan uluran hangat jemarimu
Yang membawaku ke tempat seharusnya kuberada
Di lembah gersangmu,
Le Prairie ...
Oh, jiwaku yang kering rindukan kasihmu
Berikan daku setetes air mata dari mata indahmu tuk bebaskan perihku
Kasihi aku, duhai peri ruhsana ...

Dan dengan tongkat bertabur berlian di jemarimu
yang kau ayunkan dihadapanku
Jiwaku berputar
Sukmaku melayang
Dan kalbuku kembali terisi sesak
seiring memudarnya bintang-bintang
Perihku telah lepas
Dukaku telah musnah
Dan senyummu mendamaikan hatiku

Duhai peri ruhsana
Andai kau tetap disini
Menemani sunyinya detak jantungku
yang kau degupkan kembali
SAAT KAMU PULANG HARI INI

Terima kasih untuk malam ini.
Rasanya Kilau Rembulan menyapuku.
Perihku lenyap sudah, putri.
Dan kasihmu menyelimutiku.
Seperti gelisah awan yang berdesakan.
Geloranya desaukan setiap patah namamu.
Ukirkan! Setiap lekuk indah peri budimu.
Di setiap palung sanubari manusia fana.
Dan akan tetap abadi.
Selamanya.

Terima kasih untuk malam ini.
Ranaku takkan terucapkan lagi.
Karena terjerat dalam kerlingmu.
Setiap tetes racun hidupnya.
Leburkan dalam tanur sara. Tempa !
Dan jadikan sebagai gagang pintu kejora
Dari Kebunmu, wahai pujaan peri malam,
Tempat kuncup kuncup kasihmu bersemi,
Dan sejukkan romansaku, ruhsanaku
Selamanya.
Apa aku tak pantas lagi berharap?
Walau semua harapanku kau campakkan di kakiku
Dan aku harus memungutnya kembali
Dan membersihkan sisa debu yang menempelinya

Apa aku tak pantas lagi bermimpi?
Walau semua impianku telah kau hancurkan
Hingga serpihannya mengenai wajahku
Dan membuatnya luka

Apa aku tak pantas lagi berkhayal?
Walau semua itu kau singkirkan dari benakmu
Dan aku harus merebutnya kembali
Untuk membuatku tetap hidup.
NELANGSA HATI

Mudah sekali kau berbicara
"Lupakan aku!" begitu katamu
Sementara gaung suaramu masih menggema di kalbuku
Dan denting gitar pun masih berbunyi

"Aku rapuh!" begitu ucapmu
Sementara dinding besar berdiri kokoh mengelilingimu

"Siapa yang lebih rapuh?!" tanyaku kembali
Sambil memapah kedua kakiku yang mulai lumpuh
"Kau pergi setelah kau ambil apa yang 'ku punya
Dan kau tak merasa apa-apa."

Begitu kejamnya kau tusuk aku dengan pedangmu
Sementara hanya sebatang lidi yang ku punya

Kau yang dulu begitu hangat dengan canda dan tawamu
Sekarang pun tak lagi menoleh padaku
Kau memang mati
Setidaknya bagi dirimu sendiri.

Sunday, April 6, 2008

UNTUK DIA

Kepada bintang,
kecup dia untukku.
Hangatkan malam dan lelapkan tidurnya.
Bergemerlaplah untuknya.

Kepada mentari,
kutitip peluk dan kecupan selamat pagi
kala kau sentuh kulit pualam itu

Kepada angin,
bisikkan padanya bahwa separuh hatiku
adalah miliknya. Akan selalu menjadi milikknya.

Kepada bunga disegala bumi,
semerbaklah.
Terjemahkan cerita cinta ini kepadanya
katakan padanya bahwa aku akan selalu mencintainya.



NAMAMU ...


Kala itu aku kalap
ku bagi diriku jadi berjuta nyawa
Agar dapat ku nikmati setiap musim
bermain pada semua warna bumi
berbagi dan berputar
sebelum ku kafani satu persatu
mengusung hati bernanah itu dengan dinginku
aku belum ingin berhenti.

Lalu waktu menyapaku ...
menawarkan insan segemerlap permata
'ku rangkai kata pujian
rayuku mental oleh semerbaknya
bangkitkan aku.
aku tak mau terus mati.

Lalu,
'ku wudhui jiwa dan tubuhku.
mengatakan pada tetanaman liar
untuk berhenti menjalari aku.
karena aku tak lagi jalang.

Mentari keemasan kala itu
tapi kemilaunya ada padamu
dan aku ...
tak lagi berputar
tak ingin bermain lagi

aku bangkit ...
berjalan dengan separuh jiwa yang sekarat
namun aku telah berhenti.
pada satu titik.
namamu ...


Tutup pintumu.
Kamu tahu aku telah masuk dan duduk didalamnya
jangan takut aku akan melangkahimu,
akan ku jadikan duniamu seindah duniaku.

Tutup pintumu.
rasakan hatimu bergetar karenaku.
ketika tatapan mata ini beradu,
dan kau nikmati senyumku,
Maaf. Tapi kamu tidak dapat pergi lagi.

Tutup pintumu.
biarkan aku bertahta dihatimu.
Melewati batas waktu darat dan lautan
kamu tak perlu lagi mencari.
sebab telah kau temukan cinta.


MALAM MINGGU

malam minggu lagi
ternyata aku masih sendiri
...........
padahal kemarin kupikir kau berjalan melangkah bersamaku
padahal kemarin aku pikir kau bercerita denganku
dan aku begitu terbuai
terpesona oleh semua cerita, tawa dan canda mu dan kita
..........
tetapi saat kusadari kau berbalik langkah
sambil berkata...
aku ingin kembali dan tak ingin bersamamu
aku lupa dan tak sadar diri saat bersamamu
jadi, melangkahlah engkau sendiri kembali
..........
simple....
jujur ........
dan menyakitkan............
..............
Malam minggu lagi
kembali aku meniti sepi
sambil menata kembali serpihan-serpihan hati
yang -entah - sengaja atau tidak
telah kau hancurkan
kembali aku berkidung tanpa nada
bersenandung tanpa irama
.............
Malam minggu lagi
aku coba untuk menanti dan mencari
satu kata yang katanya sangat indah apabila dijalani
satu kata yang katanya sangat berbunga didalamnya
satu kata yang katanya sangat memikat dalam ceritanya
satu kata yang katanya sangat didamba oleh semua orang
satu kata yang katanya dimiliki setiap orang...
satu kata itu cinta ...
katanya ...
tersentak aku akan kenyataan
terhenyak aku pada satu keadaan
dimana aku tak dapat lagi melihatmu
dimana aku tak dapat lagi menjangkaumu
.....
aku coba untuk berlari untuk mengejarmu
aku habiskan engahan nafasku hanya untuk mensejajarkan diriku
aku tempuh semua belantara nestapa
ku himpitkan semua ego didada
hanya untuk memanggilmu
.....
kini termenung aku pada sepinya pelabuhan
terdiam aku menatap renjana yang telah habis terbakar
terlena aku mengingat semua tentangmu
tertunduk aku hingga tak sanggup tuk ucapkan
"Aku sayang padamu"
.....
rasa itu kini telah tiada
jiwa yang mencinta sudah binasa
bathin yang mendamba telah sirna
asmara pun padamlah sudah
.....
kucoba sekali lagi dan sekali lagi menjerit
namun tak jua pernah terdengar
satu teriakan jiwa pada indramu
ku coba sekali lagi dan sekali lagi menggapai
namun tak jua tolehkan wajah dan hatimu
pada diriku yang semakin terpuruk pada kegetiran asa
.....
kini aku membisu, kaku dan membeku
menatap pedih pada perahu jiwamu yang telah jauh berlayar
ataukah diri ini yang terhanyut di lautan ketakpastian
lirih ku berkata pada diri ini
.......

When Love Must Die ..................

ABADI

Tidak ada yang berubah.
Bahkan ketika langkah kaki itu beranjak pergi,
aku masih menyimpan jejaknya.

Tidak ada yang berubah.
Bahkan ketika rinai hujan berhenti berganti pelangi,
aku masih menyembunyikan nuansanya disudut kamarku.

Tidak ada yang berubah.
Tidak pada palang-palang bambu dijalanku,
tidak pada kilauan permata kiri kanan pijakanku.

Tidak ada yang dapat merubahnya.
Dan tidak ada pula yang sanggup menggeser bayang itu.
Dari hatiku.